Kamis, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Kamis, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

 

Adab Iktikaf

Jumat 25 Mei 2018 04:31 WIB

Rep: heri ruslan/ Red: Agung Sasongko

itikaf

itikaf

Foto: Republika
Iktikaf merupakan salah satu sunah Nabi SAW pada bulan Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Untuk mengisi hari-hari terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW memilih untuk beriktikaf di masjid. Diriwayatkan dari Aisyah RA, ‘’Nabi SAW selalu beritikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkan beliau’.’ (HR Bukhari-Muslim).

Iktikaf merupakan salah satu sunah Nabi SAW pada bulan Ramadhan. Agar iktikaf yang dilakukan berbuah terampuninya dosa-dosa yang telah dilakukan, seorang Muslim hendaknya menjaga dan memperhatikan adab-adab dan sunahnya. Lalu, apa saja tata cara yang penting diperhatikan oleh seorang Muslim saat beriktikaf?

Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitabnya, Mausuu’atul Aadaab al-Islamiyah, mengungkapkan beberapa adab yang perlu dijaga dan diperhatikan dalam beriktikaf.  Beberapa adab beriktikaf itu antara lain:

Pertama, niat yang benar.

Menurut Syekh Sayyid Nada, hendaklah seseorang meniatkan iktikaf yang dilakukannya pada 10 hari terakhir Ramadhan, semata-mata hanya untuk mengharapkan keridhaan Allah SWT dan menghidupkan sunah Rasulullah SAW.

Kedua, Iktikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan.

Sebagaimana disebutkan di atas, iktikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan adalah sunah yang dicontohkan Rasulullah SAW. ‘’Boleh juga berktikaf di selain waktu itu, namun yang paling afdal adalah iktikaf pada bulan Ramadhan,’’ papar Syekh Sayyid Nada.

Ketiga, iktikaf di Masjid Jami’.

Menurut Syekh Sayyid Nada, tidak sah seseorang beriktikaf di rumahnya. ‘’Bahkan, ia wajib beriktikaf di masjid sebagaimana dicontohkan Nabi SAW,’’ ujar ulama terkemuka itu. Allah SWT berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 187, ‘’Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beriktikaf dalam masjid’’

Berdasarkan ayat itu, kata Syekh Sayyid Nada, iktikaf hanya boleh dilakukan di masjid. Bahkan, hendaknya di masjid jami’ sehingga ia tak terpaksa keluar untuk melaksanakan shalat Jumat.

Dari Aisyah RA, ‘’Sunah bagi orang yang beriktikaf adalah tak menjenguk orang sakit, tak menyaksikan jenazah, tak mendatangi wanita, tak menyetubuhinya, tidak keluar untuk sutu kepentingan kecuali yang memang harus dia lakukan, tak beriktikaf kecuali puasa, dan tak beriktikaf kecuali di masjid jami.’’ (HR Abu Dawud).

Keempat, iktikaf di dalam tenda atau kubah (semacam tenda) di masjid.

Menurut Syekh Sayyid Nada, iktikaf di dalam tenda atau kubah akan membantu orang beriktikaf untuk berkhalwat dengan Rabb-nya, bersendiri, dan tidak menyia-nyiakan waktu berbicara dengan orang lain. Hal itu, kata dia, dilakukan Rasulullah SAW.

Dari Aisyah RA, dia berkata, ‘’Rasulullah jika ingin beriktikaf, beliau mengerjakan shalat fajar, kemudian masuk ke tempat iktikafnya. Suatu kali beliau ingin beriktikaf pada 10 hari terakhir Ramadahan, lalu Rasulullah SAW memerintahkan agar didirikan kemah maka dipancangkanlahnya.’’ (HR Bukhari dan Muslim).

Kelima, tak keluar masjid tanpa ada kepentingan darurat.

Orang yang beriktikaf hanya boleh keluar dari masjid untuk buang hajat atau keperluan mendesak lainnya. Hal itu berdasarkan hadis dari Aisyah yang telah disebutkan pada poin ketiga.

Keenam, tak menyetubuhi istri atau mendatanginya.

Berdasarkan hadis dan surah al-Baqarah ayat 187, orang yang beriktikaf tak diperbolehkan menyetubuhi istrinya.

Ketujuh, bersungguh-sungguh dalam beribadah dan tak menyia-nyiakan waktu.

Bersungguh-sungguh dalam beribadah dan tak menyia-nyiakan waktu merupakan tujuan awal iktikaf. Orang yang beriktikaf hendaknya memfokuskan diri untuk beribadah dan mencari Lailatul Qadar yang dijanjikan dalam Alquran lebih baik daripada seribu bulan.

Memasuki hari ke-10 terakhir, Rasulullah SAW kian bersungguh-sungguh beribadah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari-Muslim disebutkan, ‘’Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah SAW mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.’’

Menurut Syekh Sayyid Nada, yang dimaksud dengan mengencangkan kain sarung adalah bersungguh-sungguh dalam beribadah dan tak mendatangi istri-istrinya karena kesungguhan beliau dalam beribadah.

‘’Wajib atas seorang yang beriktikaf agar memanfaatkan setiap waktu dan kesempatannya untuk beribadah, berdoa, merendahkan diri kepada Allah, membaca Alquran, memohon ampun, berzikir, mengerjakan shalat, bertafakur (berpikir), dan bertadabur (merenung).

‘’Dengan semua itu, orang yang beriktikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan berhak mendapatkan janji Allah SWT dan pahala-Nya, yakni keluar dari tempat iktikaf dalam keadaan diampuni dosa-dosanya,’’ papar Syekh Sayyid Nada.

 

 

Sumber:Ensiklopedi Adab Islam terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i

Sumber : Cahaya Ramadhan Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA