Senin, 4 Syawwal 1439 / 18 Juni 2018

Senin, 4 Syawwal 1439 / 18 Juni 2018

 

Berpuasa 21 Jam di Ujung Paling Utara Bumi

Kamis 24 Mei 2018 11:56 WIB

Red: Agung Sasongko

Masjid Inuvik di Kutub Utara

Masjid Inuvik di Kutub Utara

Foto: afp
Komunitas Muslim di belahan paling utara Bumi mendapatkan tantangan berat berpuasa.

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Lida Puspaningtyas, Kiki Sakinah

Komunitas Muslim di belahan paling utara Bumi mendapatkan tantangan berat dalam berpuasa selama bulan Ramadhan. Mereka bisa berpuasa lebih dari 19 jam. Matahari seperti tidak pernah tenggelam.

Di negara-negara khatulistiwa, seperti Arab Saudi, Singapura dan Indonesia, perbedaan pada jam-jam siang hari tidak terlalu signifikan. Tetapi di dekat Lingkaran Arktik, masalah ini sangat terik di musim panas.

Di Islandia, matahari terbenam pada tengah malam dan kembali dalam dua jam selama puncak musim panas. Muslim Islandia dapat berpuasa hingga 21 jam dan 51 menit tahun ini. Matahari terbenam pada jam 11:57 malam di malam terakhir Ramadan pada 14 Juni.

photo

Matahari tenggelam di Lingkar Kutub Utara pada tengah malam

Muslim yang tinggal di negara-negara ini sebenarnya dapat mengikuti salah satu dari tiga solusi yang ditawarkan oleh beberapa ulama dan organisasi Islam. Mereka dapat berbuka puasa menggunakan waktu matahari terbenam di negara terdekat yang tidak memiliki siang hari yang panjang.

Bisa juga mengikuti negara mayoritas Muslim terdekat, atau mengamati waktu Arab Saudi. Jika kuat, mereka tentu dapat tetap mengikuti waktu lokal.

Direktur eksekutif Yayasan Islam Islandia, Karim Askari sudah mengetahui dengan pasti solusi mana yang akan dia ikuti. Ia lebih memilih mengikuti waktu lokal, 21 jam tanpa makan dan minum.

"Aku akan ikut ke waktu setempat di Reykjavik, 21 jam tanpa makan adalah waktu yang lama, tapi insyaAllah, mayoritas Muslim di sini, di Reykjavik juga melakukannya" kata Askari kepada CNBC.

photo

Infografis Puasa Rasulullah

 

Dua masjid di ibu kota Islandia telah sepakat untuk mengikuti waktu fajar dan senja wilayah setempat. Masjid dan organisasi lain memilih untuk mengikuti waktu negara-negara Eropa lainnya.

Askari mengatakan bahwa satu masjid di Reykjavik mengikuti waktu kota di Perancis. Menurutnya, ini tidak jadi suatu masalah karena berdasar pada kesepakatan dan syariat yang berlaku.

"Mereka dapat memilih apa yang mereka inginkan. Kami memiliki ruang dalam hubungan masyarakat kami di sini," kata Askari.

photo

Muslim Islandia.

Menurutnya, apa yang tampak seperti kondisi ekstrem bagi sebagian orang adalah berkah bagi Askari. Ia mengatakan berpuasa dalam cuaca dingin lebih mudah daripada melakukannya di Asia dan Timur Tengah. Di sana, suhu bisa melonjak di siang hari.

"Lebih sulit untuk berpuasa dalam musim panas, orang-orang bisa lebih emosi dan marah tanpa makan atau minum, sedangkan di tempat yang sejuk, lebih mudah untuk melewati hari," kata dia

Namun, apa pun kondisi mereka, keimanan dan ketaatan tetap jadi tujuan utama. Selain di wilayah Islandia, turun sedikit di garis lintang, Muslim Norwegia juga mengalami siang hari selama 20 jam.

Tahun ini, waktu puasa menurut lokal adalah 20 jam dan 20 menit. Sementara mereka di Oslo akan menjalani antara 18 dan 19 jam puasa.

photo

Masjid di Oslo, Norwegia.

 

Di Oslo, seorang aktris Iman Meskini merasa bahwa tantangan terbesar bukanlah jam panjang, tetapi tetap produktif di waktu Ramadhan. Masyarakat dituntut berproduktivitas tinggi secara konstan dan tidak ada toleransi untuk memperlambat laju kehidupan.

"Tantangan dengan melakukan Ramadan di Norwegia adalah berpuasa dalam

masyarakat non-Islam," kata Meskini kepada CNBC.

Kehidupan sehari-hari berjalan seperti biasa dan masyarakat mengharapkan umat Muslim untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Seperti bersekolah, melakukan pekerjaan, ujian dan lainnya.

Statistik Norwegia memperkirakan ada sekitar 200 ribu Muslim saat ini tinggal di negara itu saat ini. Kelompok Muslim ini beragam yang terdiri dari penduduk asli Norwegia dan migran dari Pakistan, Irak, Maroko, juga Turki.

Mereka semua akan berbuka puasa dengan cara tradisional yang sama, dengan beberapa kurma dan segelas air. Tidak ada standar monolitik bagi umat Islam di sudut paling ekstrem di dunia. Bagi pengamat, itulah keindahan dalam Islam.

"Ada fleksibilitas bagi umat Islam," kata Askari.

Setiap orang melakukan apa yang mereka inginkan sesuai syariat. Inilah mengapa

Muslim memiliki fleksibilitas dimana pun mereka berada.

Madinah

Di Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi, terus berbenah guna memberikan pelayanan yang baik bagi kenyamanan jamaah selama Ramadhan ini. Dalam rangka melayani jamaah selama Ramadhan, Direktorat Jenderal Urusan Masjid Nabawi telah mempersiapkan masjid untuk mengakomodasi jamaah saat shalat. Di samping itu, direktorat juga memantau makanan Iftar (berbuka puasa) yang disediakan di masjid dan halaman luar masjid.

photo

Masjid Nabawi

Tidak hanya itu, Masjid Nabawi juga meningkatkan layanan airnya, upaya pembersihan masjid, dan penyejuk udara sepanjang waktu. Dilansir di Saudi Gazette, Kamis (24/5), hal itu dilakukan guna menyediakan jamaah suasana yang penuh dengan ketenangan dan kekhusyuk'an.

Petugas di Masjid Nabawi memberikan pelayanan dengan dimulai dengan membimbing pengunjung atau jamaah dan mengatur masuknya mereka melalui pintu gerbang masjid ke bagian pria dan wanita. Mereka juga mengarahkan jamaah ke halaman yang kosong untuk menghindari kepadatan jamaah.

Selain itu, Masjid Nabawi juga mengatur hidangan berbuka puasa dengan baik. Demi kenyamanan jamaah saat beribadah, kipas semprot dipasang di luar ruang shalat lantaran suhu yang tinggi selama musim panas.

Depertemen Pembersihan dan Karpet Masjid Nabawi juga telah menyediakan 5.000 karpet di zona shalat lantai atas masjid. Hal itu guna memungkinkan jamaah melaksanakan shalat Tarawih dengan nyaman.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES