Wednesday, 9 Muharram 1440 / 19 September 2018

Wednesday, 9 Muharram 1440 / 19 September 2018

 

Muslim Edmonton Awali Ramadhan dengan Puasa 19 Jam

Kamis 17 May 2018 14:21 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Agung Sasongko

Muslimfest di Kanada dibanjiri ribuan umat muslim dan warga Kanada.

Muslimfest di Kanada dibanjiri ribuan umat muslim dan warga Kanada.

Foto: onislam.net
Jelang akhir Ramadhan mereka akan berpuasa selama 20 jam dalam sehari.

REPUBLIKA.CO.ID, EDMONTON -- Tantangan dan durasi waktu puasa selama Ramadhan setiap negara bervariasi setiap tahunnya. Kali ini, Ramadhan dijalani dengan beberapa jam di siang hari yang paling panjang sepanjang tahun.

Di Arab Saudi, umat Muslim harus menjalani puasa selama 14 jam lamanya. Di Toronto, ibukota provinsi Ontario di Kanada, puasa berlangsung selama 16 jam.

Namun, rupanya umat Muslim di Edmonton, ibukota provinsi Alberta yang menjadi kota paling utara di Kanada, harus menghadapi tantangan yang lebih berat. Muslim di Edmonton akan mengawali Ramadhan dengan berpuasa selama 19 jam dan menjelang akhir Ramadhan mereka akan berpuasa selama 20 jam dalam sehari.

photo

Muslimah di Edmonton tengah membuat sajadah.

Mulai dari makan tengah malam (sahur) hingga hampir mengikuti zona waktu yang berbeda, Muslim di utara Kanada menyesuaikan jadwal mereka sesuai dengan kekhasan geografis di sana. Seorang penasihat muda agama pada Kementerian untuk Pembelajaran Islam Edmonton di Kanada, Arqum Riaz, mengatakan tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam yang tinggal di iklim utara selama musim panas adalah soal waktu.

"Tantangannya ialah mereka dapat bekerja lama, mereka tidak punya cukup waktu untuk tidur, tidak cukup waktu untuk beristirahat. Ini bisa sangat sulit untuk beribadah dan mendapat manfaat dari bulan yang diberkahi ini," kata Riaz, dilansir di The Star, Kamis (17/5).

Meskipun ada wilayah yang lebih jauh ke utara di Kanada di mana matahari tidak terbenam, Riaz mengatakan kota-kota tersebut kerap kali mengikuti waktu di kota besar terdekat. Salah seorang manajer desain jaringan di Whitehorse bernama Noor ul Amin menjalani puasa mulai dari pukul 3.30 dini hari hingga pukul 10.40 malam. Dia mengatakan, banyak orang di Whitehorse akan mengikuti waktu terbitnya matahari terbit dan terbenam di Vancouver.

"Karena saya punya energi, bagi saya itu bukan masalah. Beberapa orang tidak memiliki energi, jadi mereka mengikuti waktu Vancouver dan berbuka puasa dan tidak apa-apa," kata ul Amin.

photo

Infografis Ramadhan

Ia percaya dalam Islam tidak ada ketegasan terkait waktu selama prinsip-prinsip dasar puasa diikuti. Ia mengatakan, pada dasarnya taqwa adalah kebajikan dan tidak berbohong dan tidak melakukan hal-hal buruk lainnya. Dalam bahasa Urdu, ia mengatakan hal yang lebih penting ialah memberi sedekah dan bukan fitnah.

Karena jendela waktu untuk makan yang sangat kecil, Amin mengatakan kebanyakan orang seperti dia yang berpuasa selama 20 jam atau lebih karena hari terus bertambah lama, lebih memilih untuk melakukan Iftar (berbuka puasa) dan sahur bersama. Ia mengatakan, hari menjadi sangat panjang. Sehingga, mereka memiliki banyak masalah dengan waktu.

"Jadi apa yang kita lakukan adalah, ketika kita kembali dari kerja, kita tidur pukul 6 sore sampai pukul 10.30 malam, kemudian kita bangun untuk berbuka puasa, kemudian saat waktu shalat selesai (dalam) satu jam atau lebih, kita segera melakukan sahur," lanjut ul Amin.

Sementara itu, bagi Nakita Valerio, tantangan hidup di iklim utara seperti Edmonton dan dalam masyarakat yang multikultural yang tidak mengubah ritme Ramadhan adalah kehilangan waktu tidur.

photo

Jamaah di Masjid Al Rashid, Edmonton, Kanada, pada saat-saat awal masjid didirikan

Valerio adalah wakil presiden dari urusan eksternal dengan Dewan Urusan Publik Muslim Alberta dan juga seorang peneliti untuk Tessellate Institute, sebuah organisasi nirlaba independen yang mengeksplorasi dan mendokumentasikan pengalaman hidup Muslim di Kanada.

"Muslim mencoba menyesuaikan diri dengan jadwal tidur tertentu ketika kita hanya memiliki beberapa jam dari matahari terbenam hingga matahari terbit untuk makan dan minum. Tidak ada banyak ruang untuk tidur," kata Valerio.

Agar tetap bisa menjaga puasa, umat Muslim di sana diharapkan melaksanakan shalat tarawih pada malam sebelumnya. Hari berikutnya, mereka bangun sebelum shalat subuh, yang pada Rabu adalah pukul 3.31 dini hari di Edmonton, dan selanjutnya makan sahur. Mayoritas Muslim umumnya kembali tidur dan bangun lagi untuk bekerja seperti biasa.

Ia mengatakan, tidak ada banyak ruang untuk tidur di waktu tidur yang khas. Namun kemudian, itu menjadi sedikit tantangan di mana mereka mesti mencuri waktu di siang hari untuk tidur. Meski kekurangan tidur menjadi tantangan yang dihadapi banyak Muslim di sana, Valerio mengatakan umat Muslim di sana umumnya berhasil melewatinya.

"Sebagian besar tubuh mereka beradaptasi dengan rutinitas dan anda hanya tidur di siang hari kapan pun anda bisa dan mengedipkan mata di sana-sini," ujarnya.

Selain tantangan fisik saat puasa, Valerio juga menyoroti pada salah satu kesulitan yang dihadapi Muslim. Menurutnya, kesulitan Muslim yang lebih terisolasi di sana adalah kurangnya komunitas. Meskipun ini merupakan masalah kecil di kota besar seperti Edmonton, ia mengatakan itu adalah tantangan pada awalnya bagi seseorang yang baru hidup di sana seperti dia.

photo

Infografis Ramadhan

"Saya sudah menikah sekarang, tapi sebelumnya saya akan makan lentil dan nasi saya sendirian. Ini bukan benar-benar acara komunitas bagi saya, tapi di sana ada beberapa program indah yang dilakukan di komunitas kami, yang membuat sesuatu untuk menyambut orang-orang yang tidak memiliki rekan untuk berbuka puasa," tambahnya.

Layanan Sosial Keluarga Islam menyelenggarakan acara Open Door Ramadhan di sana. Orang-orang akan menjadi tuan rumah untuk Iftar dan menyambut siapa saja yang tidak memiliki tempat lain untuk berbuka.

Valerio mengakui, bahwa meskipun ia percaya pada pendekatan masing-masing terkait puasa. Namun dari yang ia pelajari, ia mengatakan mereka berpuasa pada jam-jam saat matahari turun di daerahnya, kecuali seseorang yang memliki pengecualian akademis. Dalam hal ini, biasanya mereka berpuasa sesuai jam di kota terdekat dengan kota mereka. Dia mengatakan, pengecualian berlaku bagi tempat-tempat yang lebih jauh ke utara di Kanada, di mana matahari tidak terbenam, atau bagi mereka yang tidak dapat berpuasa selama itu karena alasan kesehatan.

Banyak non-Muslim yang berpikir bahwa tantangan terbesar adalah tidak minum air selama musim panas. Namun bagi Valerio, hal itu bisa dilakukan oleh umat Muslim yang tinggal di iklim Kanada yang lebih moderat dibandingkan dengan bagian lain di dunia.

Valerio menuturkan pengalamannya saat tinggal di Maroko selama tiga tahun lamanya. Ia mengatakan, mereka akan berpuasa selama 14 atau 13 jam di sana. Namun, dengan suhu panas yang bisa mencapai 53 derajat, hal itu menurutnya menjadi tantangan yang besar.

Sementara di Edmonton, kata dia, tantangannya adalah menjaga diri dari dehidrasi sepanjang waktu. Mengingat, waktu yang singkat bagi Muslim untuk dapat meminum air. Menurutnya, ada banyak artikel yang dibagikan di Edmonton untuk mencegah dehidrasi. Selain dalam bentuk minuman, ia mengatakan air bisa dikonsumsi dalam bentuk buah dan sayuran segar saat mereka berbuka puasa.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES