Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

 

Berbagi Buka dan Sahur di Ghana

Kamis 03 May 2018 16:46 WIB

Red: Agung Sasongko

Muslimah di Ghana.

Muslimah di Ghana.

Foto: ghanamuslimweb.com
Kaum tua yang kaya pengalaman menceritakan kisah-kisah religius tentang para Nabi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari-hari di bulan suci Ramadhan dimulai pagipagi. Sekitar pukul 04.00 waktu setempat, sejumlah penabuh drum mengelilingi desa melewati rumah ke rumah warga untuk membangunkan semua orang mengingatkan waktu sahur. Kemudian, orang mulai menyiapkan makan sahur. Makanan favorit semua orang adalah sup dengan tuo zafi— makanan lembut yang terbuat dari tepung jagung. Semua bergegas menyelesaikan makan sahur hingga pukul 04.45, dan setelahnya tidak ada yang makan atau minum sampai matahari terbenam (buka puasa).

Buah untuk puasa

Tepat sebelum matahari terbenam, orang berkumpul di masjid-masjid dan membaca Alquran sambil menunggu muazin mengumandangkan azan untuk menandai akhir puasa. Orang-orang membawa buah dan air ke masjid untuk berbagi satu sama lain. Dalam Ramadhan di negeri asal bintang Chelsea Michael Essien ini, semua orang ingin mengundang teman-teman dan kerabat ke rumah untuk berbagi makan setelah matahari terbenam. Suasana itu berlangsung sampai Ramadhan usai.

Idul Fitri

Pada akhir Ramadhan, semua warga Muslim di Ghana merayakan Idul Fitri, sama seperti di pelosok dunia. Doa Idul Fitri diadakan di lapangan terbuka, di mana Muslim dari desa-desa terdekat dan kota berkumpul. Setelah doa, para pimpinan imam masjid atau tokoh agama menggelar pawai naik megah di kuda, sementara orang-orang mengikuti mereka bermain drum, menari, dan menyanyikan lagu sembari melalui jalan-jalan sampai semua orang mencapai rumah tokoh agama itu.

Setiap orang berkumpul di kediaman tokoh agama itu untuk memanjatkan doa dan berbagi makanan dan minuman bersama-sama. Sebelum meninggalkan rumah, orang mengunjungi orang miskin dan sakit, dan memberikan mereka makanan dan uang. Sehingga, semua orang baik kaya maupun miskin dapat menikmati hari Idul Fitri.

Kemudian di hari kembali fitrah itu, anak-anak mengenakan pakaian terbaik mereka dan mengunjungi orang-orang di desa. Semua orang suka memberikan mereka makanan, uang, dan permen. Setelah malam tiba, beberapa orang tua kumpulkan anak-anak bersama-sama di tengah desa untuk bercerita. Kadangkadang, kaum tua yang kaya pengalaman menceritakan kisah-kisah religius tentang Nabi, para sahabat, imam terkenal, dan syekh.

Di kesempatan lain, mereka menceritakan kisah-kisah tradisional tentang suku setempat dan dari mana mereka berasal, serta sejarah dan pertempuran berjuang di masa lalu.

Menurut data resmi yang dikeluarkan Pemerintah Ghana dan CIA Worldfact, pemeluk Islam di Ghana berkisar 16 persen, Kristen 63 persen, dan animisme 21 persen. Sedangkan Islamicpopulation melansir bahwa penganut Islam di Ghana adalah 40 persen, bukan 16 persen, dari total penduduk Ghana sebesar 20 juta orang.

Mayoritas umat Islam berada di bagian utara Ghana, sedangkan penganut Kristen berada di bagian selatan. Angka ini lebih realistis, mengingat Islam telah menyebar di Ghana sejak abad ke-9 ketika Kerajaan Ghana kuno berkuasa di Kumbi Saleh, Ghana Utara.

Islam masuk ke Afrika Barat dimulai dari Ghana pada abad ke-9 karena Ghana merupakan jalur utama perdagangan bagi para pedagang Muslim yang datang dari Afrika Utara melalui Mali.

Kemudian, pada abad ke-15, Islam semakin menunjukkan iden titasnya di Ghana bagian utara. Mayoritas pemeluk Islam di Ghana menganut mazhab Maliki, sedangkan aliran Sufi yang dianut adalah Tijaniyah dan Qadiriyah. Ahmadiyah dan Syiah dianut oleh sebagian kecil pemeluk Islam di Ghana.

Sumber : Cahaya Ramadhan Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES