Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

 

Semarak Ramadhan di Lakemba

Kamis 03 May 2018 15:20 WIB

Rep: Fernan Rahadi/ Red: Agung Sasongko

Muslim Australia

Muslim Australia

Foto: Australia Plus
Lakemba daerah pinggiran di Australia, tepatnya Barat Data Sydney.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lakemba. Nama ini tentu belum akrab di telinga warga Indonesia. Ini adalah daerah pinggiran di Australia. Lokasinya di barat daya Sydney, Australia. Daerah ini terpahat indah di hati Ade Kumalasari (31 tahun). Mala, sapaan dia, sudah menjejakkan kaki di negeri Kanguru sejak 2006 silam. Tapi, ketika menemukan suburb Lakemba pada April 2009, dia langsung jatuh hati. Keluarganya pun demikian.

Sudah selama kurang lebih empat setengah tahun terakhir ini, Mala bersama suami dan kedua putrinya tinggal di negeri Kanguru. “Suburb Lakemba tempat kami tinggal sekarang adalah wilayah dengan imigran Muslim yang lumayan besar,” ujar Mala, yang rajin nge-blog.

Di wilayah itu terdapat salah satu masjid terbesar di Australia bernama Lakemba Mosque. Masjid ini juga dikenal sebagai Imam Ali bin Abi Talib Mosque yang didirikan kelompok Muslim Lebanon di Australia pada 1977. Tiap Jumat, tempat itu dan juga mushala-mushala lain di Lakemba selalu dipadati jamaah untuk menunaikan shalat Jumat.

Di Lakemba juga tidak asing dijumpai orang-orang berbusana muslim, seperti perempuan berjilbab dan laki-laki yang mengenakan jubah atau gamis. Bahkan, kata penulis novel remaja ini, ada toko baju dan perlengkapan Muslim, toko buku dan kitab Islami, serta toko suvenir atau pernak-pernik Arab seperti kaligrafi, sisha, dan sebagainya.

Kapan sih mulai banyak orang asli tertarik sama Islam? Dia mengisahkan, hal itu terjadi semenjak peristiwa 9/11. Orang-orang non- Muslim di Australia sedikit demi sedikit mulai tahu apa yang dilakukan orang Islam.

Salah satunya adalah puasa di bulan Ramadhan. Di tempatnya bekerja, sebelum bulan Ramadhan terdapat kampanye ‘Islamic Awareness Week’ yang bertujuan untuk mengenalkan Islam dan Ramadhan. “Acara itu untuk mahasiswa dan pekerja kampus yang non- Muslim,” ujar asisten peneliti di South East Asian Studies Sydney University ini.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES