Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

 

Terkait Busana Muslim Berlambang Salib, Ini Kata Tantowi Yahya

Senin 13 Jun 2016 14:22 WIB

Rep: Qommarria Rostanti/ Red: Bilal Ramadhan

Wakil Ketua Komisi I DPR Tantowi Yahya.

Wakil Ketua Komisi I DPR Tantowi Yahya.

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID,‎ JAKARTA -- Komisi I DPR RI akan menyampaikan kritik dan saran masyarakat terkait penggunaan busana berlambang salib di acara sahur Ramadhan di TVRI. Pemberitahuan ini dimaksudkan agar ke depannya tidak ada lagi ornamen tayangan yang mampu membuat masyarakat resah dan bertanya-tanya.

"Akan kami sampaikan ini ke TVRI sebagai pemberitahuan dan disertai imbauan agar lebih berhati-hati ke depan," kata anggota Komisi I DPR RI Tantowi Yahya kepada Republika.co.id, Senin (13/6).

Politikus dari Partai Golkar tersebut mengatakan busana atau ornamen yang akan dikenakan pengisi acara haruslah dicek terlebih dahulu. "Agar tidak menimbulkan salah pengertian," ujar Tantowi.

Meski begitu, dia meyakini penggunaan berlambang salib tersebut tidak mengandung unsur kesengajaan. Tantowi pun menduga, pihak-pihak yang terlibat dalam proses tersebut tak menyangka bahwa pakaiannya menimbulkan kesan yang identik dengan umat Kristiani.

Seperti diberitakan sebelumnya, tayangan program sahur di TVRI menyedot perhatian khalayak. Pasalnya dalam tayangan tersebut terlihat dua pengisi acara berjilbab mengenakan busana bertanda salib di bagian depan. Dokumentasi atas acara tersebut pun berkembang viral di media sosial.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai tayangan program Ramadhan di TVRI tersebut mencatut gambar Salib sebagai simbol agama di umat Kristiani. Tayangan tersebut diputar di acara sahur Ramadhan pada Sabtu (11/6) sekitar pukul 03.18 WIB.

MUI sangat menyayangkan program tersebut. Program yang disiarkan secara langsung itu dinilai MUI sebagai unsur kesengajaan yang dapat melukai hati umat Islam. MUI mendesak TVRI segera meminta maaf kepada umat Islam.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA