Kekeringan Landa Jamaah Masjid Lereng Merapi

Rep: edy setiyoko/ Red: Damanhuri Zuhri

 Sabtu 04 Jul 2015 06:11 WIB

Sejumlah warga membersihkan sisa timbunan material vulkanik yang mengendap di jalanan dan selokan kawasan lereng Merapi. Foto: Antara/Anis Efizudin Sejumlah warga membersihkan sisa timbunan material vulkanik yang mengendap di jalanan dan selokan kawasan lereng Merapi.

REPUBLIKA.CO.ID, KLATEN -- Bencana kekeringan melanda jamaah masjid lereng Merapi terasa dua bulan terakhir. Bak penampungan air warga mengandalkan air hujan sekarang sudah kering. Jadi, memang sudah dua minggu ini, persediaan bak penampungan air warga sudah habis.

Gunanta, salah satu perangkat Desa Tlogo Sewu mengakui, sejak dua pekan ini warga di Desa Tlogowatu yang terdiri dari 25 Rukun tetangga (RT) dengan jumlah sekitar 1.100 penduduk, sudah membeli air dari truk tanki.

Harga Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per satu truk tangki. Tinggi rendahnya harga air tergantung jarak antara lokasi yang dituju dengan jalan jalur truk. ''Lokasi semakin jauh dan sulit dijangkau, harga air semakin tinggi,'' katanya.

Bencana kekeringan di sana, terjadi sejak lama. Warga tidak kaget dengan bencana musiman. Di sini tidak ada sumber mata air. Oleh karena itu, warga mengandalkan air hujan yang ditampung dalam bak tandon air di setiap pinggir rumah. Air dari genting disalurkan ke bak penampungan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Sri Winoto, menuturkan, kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dari tahun sebelumnya.

Tahun lalu, kemarau datang akhir Juni hingga Agustus 2014. Tahun ini, kemarau diprediksi pertengahan Juni hingga Oktober. Kemarau diprediksi lebih panjang dari tahun lalu.

Ada 28 desa yang diperkirakan terdampak kekeringan tahun ini. Desa yang paling berisiko berada di Kecamatan Kemalang yang berada di lereng Gunung Merapi.

Kendati demikian, BPBD menjamin wilayah yang terdampak kekeringan akan tercukupi kebutuhan air bersih. Dengan anggaran penanggulangan bencana kekeringan Rp200 juta, dapat melakukan penyaluran air bersih.

Dampak musim kemarau itu, kata Sriwinoto, adanya peningkatan suhu udara yang panas. Sehingga berimplikasi bencana kebakaran dan kekeringan. Ia menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk memperhatikan lingkungan sekitar dan menjaga barang-barang yang mudah terbakar.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X