Tradisi Ngabuburit di Jawa Barat

Rep: Agus Yulianto/ Red: Chairul Akhmad

 Rabu 09 Jul 2014 21:38 WIB

Saat Ramadhan dan menjelang Lebaran, sentra pakaian dan kain Pasar Baru Bandung dipadati pengunjung. Foto: Republika/Edi Yusuf Saat Ramadhan dan menjelang Lebaran, sentra pakaian dan kain Pasar Baru Bandung dipadati pengunjung.

REPUBLIKA.CO.ID, Bulan Ramadhan tak terasa telah memasuki hari ke-10. Banyak cara masyarakat Indonesia melakukan kegiatan menyambut dan mengisi Ramadhan.

Di Bandung, misalnya, saat mengikuti istighasah di berbagai masjid hingga menunggu buka puasa, warga melakukan apa yang akrab disebut ngabuburit.

Ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, burit yang berarti sore. Hal ini sudah menjadi salah satu tradisi di kalangan masyarakat Kota dan Kabupaten Bandung. Menunggu sore dengan berjalan-jalan sekitar rumah menjadi hal yang “wajib” dilakukan sebelum buka puasa.

Banyak pasar dadakan atau pasar kaget yang buka saat ngabuburit ini. Dari Bandung Tengah sampai Bandung Timur banyak titik yang bisa dijadikan sebagai lahan untuk berjualan para pedagang dadakan. Di daerah Bandung Timur, dari Cicaheum, Antapani, Arcamanik, Ujung Berung, Cibiru, sampai Cileunyi banyak ditemukan pasar kaget.

Para pedagang dadakan itu tentu berharap mendapatkan rezeki yang berlimpah pada momen besar umat Islam tersebut. Bahkan, pedagang dan pembeli tak usah bingung mencari lahan untuk bertransaksi. Tanah kosong depan masjid, lapangan, sampai halaman kampus pun penuh dengan orang-orang.

“Buat ngilangin rasa lapar saja. Kan dengan ngabuburit ini jadi lupa lapar dan hausnya,” kata Agnia Handini, mahasiswi Universitas Padjajaran yang tengah membeli kolak pisang dan sejumlah kue di Pasar Cileunyi.

Tak dimungkiri, ajang ngabuburit ini membuat jalanan menjadi macet. Pedagang dan pembeli yang meluap sampai ke tepi jalan membuat para pengendara susah untuk terus melaju. Tak sedikit juga orang yang marah akibat terserempet dan kesal karena macet.

Di Cibiru, misalnya, halaman kampus yang dijadikan lahan berdagang menjadi jalan yang anti dilewati para pengendara. Kemacetan di kawasan ini tidak ketulungan apalagi pada pukul 16.00 WIB hingga waktu menjelang Maghrib.

“Saya sampai harus berbuka di jalan dengan membeli air mineral karena terjebak macet,” kata Maulida, salah sorang karyawan swasta yang tinggal di Ujung Berung, Kota Bandung.

Bahkan, akibat macetnya arus lalu lintas itu, pekan lalu, salah seorang anak hampir saja tertabrak motor karena terlalu mendekati jalan. Para pedagang seharusnya mencari lahan yang tidak mengganggu akses jalan.

Sementara, para pembeli pun harus lebih berhati-hati. Pengendara juga harus lebih bersabar jika melewati pasar kaget yang bermunculan pada masa ngabuburit ini.








BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X