Bedil Lodong Beraksi

Rep: Riga Nurul Iman / Red: Chairul Akhmad

 Rabu 09 Jul 2014 15:02 WIB

Permainan bedil lodong. Foto: Yaumilakbarfirdaus.com Permainan bedil lodong.

REPUBLIKA.CO.ID, Beragam cara unik dilakukan masyarakat menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Salah satunya dilakukan warga Cigadog Lebak, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi.

Masyarakat daerah ini sudah terbiasa menyambut Ramadhan dengan permainan bedil lodong. Permainan ini pun tetap berlangsung hingga memasuki bulan Ramadhan. Sambil menunggu azan Maghrib berkumandang, bedil lodong ini pun beraksi.

Bedil lodong merupakan alat yang bisa mengeluarkan bunyi yang keras. Benda tersebut terbuat dari pipa paralon bekas, kaleng susu bekas, magnet korek, dan spirtus.

Permainan yang dilakukan pada sore hari ini tidak hanya dilakukan anak-anak, tetapi juga kerap didampingi oleh orang dewasa. “Biasanya ada dua kelompok warga yang bermain,” ujar salah seorang warga Cigadog Lebak, Ujang Wahyu (40 tahun).

Menurut Wahyu, bedil lodong mengeluarkan suara dengan memanfaatkan embusan uap dari spirtus yang disemprotkan ke dalam pipa paralon. Di antara pipa paralon itu terdapat lubang-lubang udara. Sehingga pada saat spirtus dimasukkan, akan terdengar suara keras dan keluar api.

Wahyu mengatakan, permainan ini sebenarnya tidak berbahaya. Namun, permainan bedil lodong harus mendapatkan pengawasan dari orang dewasa apalagi bila dilakukan anak-anak.

Warga Cigadog Lebak lainnya, Yadi (38), mengatakan, permainan bedil lodong di kampungnya tidak menggunakan bambu dan karbit. Sehingga, permainan ini lebih aman untuk dilakukan baik orang tua maupun anak-anak.

Yadi mengungkapkan, cara pembuatan bedil lodong pun cukup mudah. Hal ini karena bahan-bahan yang diperlukan merupakan barang bekas yang sudah tidak digunakan lagi. Di antaranya, pipa paralon bekas, kaleng susu bekas, magnet pada korek api. Paling hanya lakban dan spirtus yang harus dibeli jika memang tak ada persedian.

Di beberapa daerah, bedil lodong banyak memanfaatkan bambu muda yang diameternya cukup besar. Karena itu, permainan ini kerap juga disebut meriam bambu. Jika bermain menggunakan bambu, pada bagian ujung bambu sudah dilubangi dan terisi air secukupnya. Bambu-bambu ini disusun berderet membuat barisan.

Bambu-bambu itu kemudian diisi karbit kecil. Sekitar tiga hingga lima menit kemudian, kain penutup lubang di ujung bambu itu dilepas. Seketika akan terdengar bunyi “duar!”  Suara ledakan pun akan menggema.

Tidak hanya anak-anak yang menghabiskan waktu sore menunggu bedug Maghrib dengan bermain bedil lodong. Puluhan orang dewasa dan orang tua pun terlibat.

Biasanya, sekitar pukul 16.30 WIB mereka baru berdatangan ke arena permainan yang biasanya memanfaatkan lapangan terbuka. Seperti sudah terjadwal, ketika orang dewasa datang, anak-anak pun hengkang.

Bagi sebagian besar warga bermain bedil lodong jauh lebih mengasyikkan daripada ngabuburit dengan menggenjot sepeda. Selain modal untuk membuatnya murah meriah, bedil lodong membuat mereka lupa waktu dan tak terasa sudah azan Maghrib saja.





BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X