Nganter Nasi, Tradisi Ramadhan Asli Betawi (Habis)

Rep: c72/ Red: Agung Sasongko

 Senin 23 Jun 2014 23:59 WIB

Makanan khas betawi Foto: Republika/Agung Fatma Putra Makanan khas betawi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mengenai daging yang dipilih dalam tradisi ini Tabroni juga menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Ia menjelaskan bahwa daging yang digunakan sebagai hantaran adalah daging kerbau.

"Masyarakat betawi lebih menyukai cita rasa daging kerbau karena daging tersebut memilik serat dan aroma yang khas, oleh karena itu daging kerbau dipilih dalam tradisi hantaran tersebut," ucap Tabroni.

Daging kerbau yang dipilih pun juga harus daging yang terbaik yakni daging kerbau kualitas super, karena ini sifatnya adalah untuk pemberian maka daging super dipilih menjadi pilihan yang terbaik sebagai simbol rasa hormat kepada orang yang lebih tua.

"Daging kualitas super dianggap sebagai daging yang terbaik karena merupakan daging segar, daging tersebut diambil dari kerbau yang baru saja disembelih sehingga memiliki tingkat kesegaran tersendiri," ucap Tabroni.

Selain dari daging super, ia juga menambahkan bahwa daging yang dipilih dalam tradisi ini adalah daging dari kerbau jantan muda. Maka tak heran jika daging tersebut memiliki harga yang paling tinggi jika dibandingkan dengan daging lainya.

"Daging kerbau super saat hari biasa memiliki harga Rp 90 ribu per kilogram, sedangkan saat musim Nganter Nasi tejadi kenaikan harga sebesar Rp. 20 ribu  hingga harganya menjadi Rp 110 ribu per kilogram," ucapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa masyarakat di sekitar Kampung Betawi sendiri biasanya membeli daging kerbau di pasar Cisalak. Rata-rata masyarakat membeli sekitar lima kilogram daging kerbau untuk hantaran dalam tradisi Nganter Nasi.

"Daging kerbau tersebut biasanya dimasak dengan bumbu semur, untuk setiap hantaran rata-rata berisi empat potong daging yang telah dimasak semur lengkap dengan nasi dan dodol yang terkemas dalam satu rantang," ucap Tabroni. Tradisi ini mulai dilaksanakan masyarakat Betawi saat satu hari sebelum Idul Fitri, selanjutnya tradisi tersebut masih berlangsung sampai lebaran hari kedua.

Ia juga menjelaskan bahwa tradisi ini erat hubunganya dengan nilai-nilai dalam ajaran Islam. Nilai yang terkandung dalam tradisi Nganter Nasi antara lain adalah mengenai keutaman bersilaturahmi dengan kerabat, saling menghormati dan nilai-nilai dalam berbagi dengan sesama.

"Kami besyukur tradisi ini masih dapat kami pertahankan hingga saat ini, bahkan tradisi ini sudah sangat melekat dalam masyarakat sampai-sampai sebagian besar masyarakat lebih mengutamakan tradisi ini dari pada membeli baju lebaran," ucap Tabroni.

"Antusiasme masyarakat terhadap tradisi Nganter Nasi  sampai saat ini masih cukup tinggi, bahkan pilihan isi dari hantaran ini yang berupa daging kerbau, nasi dan dodol masih tetap terjaga dari generasi ke generasi," ucap pria yang memiliki empat orang anak dan empat orang cucu.

Ia juga sempat menggambarkan mengenai suasana saat tradisi ini berlangsung, karena hampir setiap rumah memasak semur daging kerbau sampai-sampai aroma masakan tersebut tersebar diseluruh lingkungan Kampung Betawi.

Meskipun tradisi ini identik dengan pemberian kepada kerabat yang lebih tua namun pihak kerabat yang lebih tua seringkali juga memberikan makanan kepada kerabat yang memberi, sehingga rantang yang dikembalikan kepada pemberi tidak dalam keadaan kosong.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Play Podcast X