Pasokan Buah Favorit Berbuka, Blewah dan Timur Suri, Langka

Rep: mg03/ Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

 Jumat 19 Jul 2013 23:12 WIB

 Pembeli memilah blewah di pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (9/7).   (Republika/Rakhmawaty La'lang) Pembeli memilah blewah di pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (9/7). (Republika/Rakhmawaty La'lang)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat Ramadhan tiba, salah satu hal yang dinantikan oleh umat Islam adalah berbuka dengan minuman dingin dengan potongan buah khas yang hanya dicari di bulan ini, seperti es blewah, es timun suri, atau campuran keduanya.

Sayangnya, kali ini, pasokan kedua buah itu menipis. Kondisi itu diakui Wulan (27 tahun), pedagang buah di Pasar Kramat Jati yang berjualan sejak tahun 2002.

Ibu dua anak ini megeluhkan sejak awal Ramadhan, harga timun suri di Pasar Kramat Jati mengalami kenaikan hingga  Rp 8.000 per kg. Biasanya, timun suri dijual dengan harga Rp 2.500-Rp 3.000, paling mahal Rp 5.000. Ia menuturkan harga timun sari di Pasar Induk Kramat Jati, tempat ia biasa mengambil buah, juga sudah mahal. disebabkan pasokan buah.

Ia sebenarnya biasa menjual berbagai macam buah. Tiap bulan puasa, ia hanya menjual timun suri dan blewah. Alasannya, dua buah itu banyak dicari di bulan Ramadhan, terutama timun suri. ''Timun suri hanya di bulan puasa. Bulan biasa mana laku,'' ujarnya.

Kenaikan harga itu sedikit banyak mempengaruhi penjualannya. Perempuang yang mulai menggelar dagangan sekitar pukul 09.00 WIB, belum bisa mendapatkan Rp 100.000 hingga pukul 11.000.

Padahal, buah yang ada di rak dagangannya sudah berusia dua hari, harus segera diganti. ''Kalau sudah lembek begini siapa yang mau. Ya paling (buah ini) dibuang,''akunya. Selain itu, keuntungan yang diperoleh pun tak besar. Meski sudah menaikkan harga, ia hanya mendapat keuntungan sebesar Rp 1.000 per kilogram.

Tidak hanya itu, saat ini Wulan juga tak bisa berjualan blewah, salah satu komoditas utamanya tiap puasa. Wulan menuturkan harga blewah di pasar induk adalah Rp 12 ribu per kg. Sementara, kesanggupan pembeli dagangannya hanya Rp 10 ribu. ''Daripada saya rugi mendingan tidak jualan,''katanya.

Buah blewah juga tidak tampak di meja-meja pedagang lain, misalnya meja Jiyatmi (57 tahun). Jiyatmi sudah 15 tahun di Pasar Kramat Jati. Terlihat di atas meja dagangnya, ada buah belimbing, mangga, jambu merah, timun suri, dan melon, namun, tak ada buah blewah.

Blewah, tutur Jiyatmi, sebenarnya selalu ada peminatnya meski bukan di bulan puasa. Akan tetapi, bulan puasa kali ini buah blewah susah tumbuh karena terlalu banyak diguyur air hujan akibat kemarau basah. ''Buah apa juga tidak ada yang bagus kalau kebanyakan kena air,'' ucapnya.

Mengenai kenaikan harga timun suri, Jiyatmi mengungkapkan, pada dasarnya semua harga buah sedang naik. Di saat seperti ini, pedagang mengalami masa yang sulit. ''Mau jualan gimana, nggak juga gimana.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X