Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Berbuka Bagi Pemudik, Bagaimana Hukumnya?

Jumat 31 May 2019 15:30 WIB

Red: Agung Sasongko

Mudik

Mudik

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Bepergian yang diperbolehkan berbuka adalah bepergian yang mengakibatkan kepayahan.
<p>REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Mudik telah menjadi tradisi bagi masyarakat di Tanah Air. Belasan juta warga perkotaan pun diprediksi akan kembali ke kampung halaman menjelang Idul Fitri 1440 Hijriyah. Jauhnya perjalanan membuat beberapa pemudik pun harus berbuka. Mereka memilih membatalkan ibadah puasa.

Alquran memang menerangkan jika shafar atau bepergian termasuk bagian dari keringanan orang berpuasa. "Maka, barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain." (QS al-Baqarah ayat 184).

Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid menjelaskan, ayat ini bisa diartikan apa adanya tanpa ada kalimat yang dibuang sama sekali. Selain itu, ayat ini bisa diartikan secara majaz bahwa yang dimaksud ialah orang sakit dan musafir. Ketika mereka berbuka, puasanya harus dibayar pada hari-hari yang lain.

Ulama-ulama pun mengartikan ayat tersebut bahwa seorang musafir wajib berpuasa pada hari-hari lain. Bukan ketika dia bepergian. Ulama-ulama yang mengartikan ayat tersebut secara majaz mengatakan, jika seorang musafir wajib berpuasa pada hari-hari lain jika ia berbuka pada saat ia bepergian. Ini berdasarkan firman Allah SWT. "Maka, bilangan itu dikerjakan di harihari lain."

Dari Jabir bin Abdullah RA, Rasulullah SAW pergi ke Makkah pada tahun penaklukan Kota Makkah. Beliau berpuasa hingga tiba di Kura' al-Ghamin (sebuah lembah di Usfan), dan orang-orang turut berpuasa bersamanya.

Kemudian, ada seorang sahabat yang berkata, orang-orang merasa berat untuk meneruskan puasa dan mereka menunggu apa yang akan Rasul lakukan. Mendengar hal itu, Rasul meminta secawan air, lalu meminumnya. Hal ini beliau lakukan setelah shalat Ashar. Orang-orang yang menyaksikan itu ada yang mengikuti rasul dan membatalkan puasanya.

Sementara itu, sebagian lainnya tetap berpuasa. Mengetahui masih ada yang berpuasa, Rasul SAW bersabda: "Mereka itu adalah orang-orang yang durhaka." (HR Muslim Jilid II, hlmn 785, Nasai, dan Tirmidzi).

 

 

sumber : Dialog Jumat Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA