Kemenhub: Hingga H-2, Angka Kecelakaan Darat Turun 80 Persen

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Teguh Firmansyah

 Selasa 04 Jun 2019 13:56 WIB

Kecelakaan melibatkan dua mobil terjadi di Jalur Gentong, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (1/6) sore. Tak ada korban jiwa akibat kecelakaan tersebut. Foto: Republika/Bayu Adji P Kecelakaan melibatkan dua mobil terjadi di Jalur Gentong, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (1/6) sore. Tak ada korban jiwa akibat kecelakaan tersebut.

Terdapat 52 kejadian kecelakaan dengan jumlah meninggal 13 orang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perhubungan mencatat penurunan drastis angka kecelakaan lalu lintas darat hingga H-2 Lebaran, Senin (3/6) kemarin. Angka kecelakaan tercatat mengalami penurunan sampai 80 persen.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Kemenhub, Budi Setiyadi, mengatakan, berdasarkan akumulasi data di lapangan, pada H-2 terdapat 52 kejadian kecelakaan dengan jumlah meninggal 13 orang. Sementara, pada H-2 Lebaran tahun 2018, tercatat ada 128 kejadian kecelakaan dengan jumlah korban meninggal 30 orang.

"Terjadi penurunan kecelakaan sampai 80 persen. Khusus korban meninggal saja turun sampai 50 persen. Kita bersyukur juga karena ini juga misi kemanusisaan untuk menurunkan angka kecelakaan," kata Budi dalam Konferensi Pers di Posko Tingkat Nasional Angkutan Lebaran Terpadu Kemenhub, Jakarta, Selasa (4/6).

BUdi mengatakan, puncak arus mudik tahun ini telah terjadi sejak tanggal 30 Mei sampai dengan 1 Juni 2019. Berdasarakan hasil penyusuran lapangan, tidak terjadi kepadatan kendaraan yang parah karena adanya penerapan one way oleh Kepolisian.

Ia pun menilai, saat ini koordinasi antara Kepolisian, Kemenhub, Jasa Raharga, dan Kementerian PUPR sudah sangat baik untuk menekan angka kecelakana di jalan raya, terutama saat musim mudik. Namun, Budi mengatakan, peran serta masyarakat tetap menjadi faktor utama dalam upaya menekan kecelakaan dan korban meninggal.

Disamping terjadinya penurunan angka kecelakaan, Budi mengakui terdapat catatan khusus dalam arus mudik kali ini. Terutama terkait penggunaan sepeda motor bagi para pemudik.

“Untuk penggunaan sepeda motor dari jalur pantura di sekitar Balonggandu ada peningkatan cukup signifikan dibandingkan tahun lalu," kata Budi.

Pihaknya mencatat, pada H-7 atau pada 29 Mei 2019 terdapat kenaikan kendaraan sebesar 127 persen dengan rincian tahun 2018 sebanyak 42.556 unit, sementara 2019 terdapat 96.627 unit.  Sementara H-6 atau 30 Mei 2019 naik 138 persen. Pada tahun 2018 terdapat 34.838 unit sepeda motor dan tahun 2019 sebanyak 83.128 unit.

Adapun pengguna bus tidak begitu tinggi karena banyak masyarakat yang lebih memilih kendaraan pribadi. "Memang ada korelasi yang signifikan antara mudik gratis dengan penggunaan bus, karena di luar mudik gratis itu terjadi penurunan (pengguna bus) tapi dengan kendaraan pribadi mengalami peningkatan. Sepeda motor secara umum ada peningkatan yang cukup tinggi dibanding tahun 2018, saya kira karena banyak masyarakat yang sudah menguasai penggunaan motor namun kita harapkan tidak dipakai selama mudik," ujar dia.

Pemerintah berharap kampanye mudik tanpa sepeda motor dapat dipatuhi pemudik. Sebab, kata Budi, sepeda motor merupakan moda transportasi yang paling berbahaya dan rawan kecelakaan sehingga diharapkan tidak ada lagi yang memaksakan diri

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X