Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

 

Sistem One Way Kembali Diberlakukan di Tol Jakarta-Cikampek

Rabu 20 Jun 2018 21:06 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Bayu Hermawan

Sejumlah kendaraan melintas di Ruas Jalan Tol Jakarta-Bekasi Timur saat sistem satu arah (ilustrasi)

Sejumlah kendaraan melintas di Ruas Jalan Tol Jakarta-Bekasi Timur saat sistem satu arah (ilustrasi)

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Rekayasa lalu lintas diberlakukan hingga kilometer 3 (Halim).

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- PT Jasa Marga kembali memberlakukan kebijakan rekayasa lalu lintas satu arah (one way) di Tol Jakarta-Cikampek pada Rabu (20/6) malam. Rekayasa lalu lintas diberlakukan mulai dari Tol Cipali.

Humas PT Jasa Marga cabang tol Jakarta - Cikapek Irwansyah mengatakan, pemberlakuan sistem satu arah dilakukan guna mengurai kepadatan volume lalu lintas di ruas tol akibat arus balin Lebaran 2018.

"Per 19.45 WIB, rekayasa lalu lintas one way arah Jakarta diperpanjang hingga Kilometer 3 (Halim,)" ujar Irwansyah di Bekasi pada Rabu (20/6).

Bagi pengguna jalan dari Jakarta menuju ke arah Cikampek, pihak Jasa Marga dan kepolisian mengalihkan pengendara melalui jalur arteri Kalimalang. "Belum diketahui sampai pukul berapa kebijakan one way ini. Situasional saja. Seperti kemarin saja sampai pukul 04.00 WIB, kalau hari ini belum tahu. Kalau masih padat kita akan perpanjang," ujarnya.

Akibat diberlakukannya sistem tersebut, bagi pengemudi yang akan menuju arah timur pulau Jawa harus melalui jalur arteri. Sebab, semua pintu gerbang tol dari Jakarta menuju timur Pulau Jawa di tutup.

Salah satu pengemudi bus, Arif Ari Wibowo (41) mengaku, biasanya melewati Tol Cipali menuju Solo, Jawa Tengah. Namun, imbas ditutupnya pintu tol, ia harus melewati jalur Indramayu. Waktu tempuh dan jarak tempuh pun menjadi lebih lama dibandingkan dengan melewati Tol Cipali.

"Cipali itu paling delapan jam (sampai ke Solo). Kalau lewat jalur biasa sampai 11 jam. Selisihnya itu bisa sampai tiga jam," kata Arif di Terminal Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (20/6).

Selisih tiga jam tersebut, lanjutnya, jika tidak terjadi kemacetan di jalur Indramayu. Jika terjadi kemacetan, waktu tempuh akan lebih lama. "Tiga jam itu kalau jalanya lancar di jalur biasa. Kalau macet bisa lebih lama lagi," katanya.

Walaupun begitu, ia tak merasa terbebani dengan hal tersebut. Sebab, jika tidak diberlalukan sistem tersebut, kemacetan parah dipastikan akan terjadi di jalan tol yang dikarenakan terjadinya arus balik.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA