Stasiun KA Bandung Tambah Fasilitas untuk Pemudik

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Yudha Manggala P Putra

 Sabtu 16 Jun 2018 14:35 WIB

Para calon penumpang Kereta Api (KA) antre melakukan Check In atau cetak boarding pass tiket, di Stasiun KA Kiaracondong, Kota Bandung, Ahad (10/6). Foto: Republika/Edi Yusuf Para calon penumpang Kereta Api (KA) antre melakukan Check In atau cetak boarding pass tiket, di Stasiun KA Kiaracondong, Kota Bandung, Ahad (10/6).

Stasiun KA Bandung menambah fasilitas mudik seperti jumlah bilik toilet dan urinoir.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung memprediksi puncak arus mudik pada H+2 sampai H+3 Lebaran. Manager Humas PT KAI Daop 2 Joni Martinus mengatakan, PT KAI tetap mengoperasikan kereta api tambahan sama seperti saat arus mudik.

Untuk itu, PT KAI menambah fasilitas yang dapat dinikmati oleh pemudik. "Di Stasiun Bandung ini kami menambah jumlah bilik toilet untuk yang tadinya empat menjadi delapan," ujar Joni beberapa waktu lalu.

Tidak hanya itu, urinoir untuk pria ditambah dua kali lipat dari 5 menjadi 10. Untuk memudahkan pemudik beribadah, PT KAI juga memindahkan tempat wudhu menjadi di luar dekat area parkir.

"Jadi untuk penumpang atau pengantar bisa lebih mudah untuk mengakses jika mau melakukan solat," jelasnya.

PT KAI turut mengecat ulang seluruh stasiun di DAOP 2 dan mengganti keramik dengan granit. Selain itu, seluruh stasiun memiliki posko kesehatan yang dapat digunakan pemudik dengan gratis.

"Kami di semua stasiun yang ada penumpangnya, dari Purwakarta, Padalarang, Cimahi, Bandung, Kiara Condong, Cicalengka, Banjar, Tasikmalaya, Cibatu, itu kita mendirikan posko-posko kesehatan," jelasnya.

Joni menuturkan, H+2 dan H+3 lebaran menjadi puncak arus mudik karena seluruh tiket telah terjual habis. Selama lebaran, PT KAI melakukan 96 perjalanan mudik, termasuk dari kereta api tambahan.

Di sisi lain, Joni mengimbau para pemudik untuk tetap memperhatikan waktu perjalanan, tidak membawa barang bawaan yang berlebihan dan tidak membawa barang dengan bau yang tajam.

"Kami merasa menyayangkan hal tersebut karena penumpang tidak jadi berangkat, tentu mereka kecewa, tentu tiket hangus," jelasnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X