Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

 

Warung Dadakan di Brebes Jadi Tujuan Wisata Kuliner Pemudik

Jumat 15 Jun 2018 02:04 WIB

Red: Andri Saubani

Sejumlah kendaraan melintas di Pintu Masuk Tol Brexit, Brebes, Jawa Tengah, Selasa (12/6).

Sejumlah kendaraan melintas di Pintu Masuk Tol Brexit, Brebes, Jawa Tengah, Selasa (12/6).

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Warung dadakan menjual makanan dan minuman di jalur Pejagan-Bumiayu-Purwokerto.

REPUBLIKA.CO.ID, BREBES -- Warung dadakan yang menjual berbagai macam penganan dan minuman mulai dari dawet ayu hingga ketoprak menjadi tujuan wisata kuliner pemudik di sepanjang jalur Pejagan-Bumiayu-Purwokerto. Berdasarkan pantauan di sekitar 7 km setelah Pospam Dremoleng, Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Kamis (14/6), terlihat puluhan warung dadakan menyajikan makanan khas Nusantara mulai dari ketoprak, dawet Banjarnegara, mi instan, hingga kopi sachetan.

Para pedagang warung dadakan itu mewarnai jalur mudik Pejagan-Bumiayu, Purwokerto, dan tampak menjadi tujuan wisata kuliner pemudik yang ingin melepas lelah. Sekitar 7 km setelah lepas dari Pospam Dremoleng, Ketanggungan, Kabupaten Brebes, di tengah area persawahan tepatnya di Desa Karangbale, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, berjejer warung setengah permanen sepanjang jalan menyajikan menu yang sama, ketoprak dan dawet ayu Banjarnegara.

Salah satu pedagang yang merupakan warga setempat Waridi (47) mengaku dagang ketoprak dan dawet dijalani sudah berjalan tujuh hari. Dia menjual ketoprak seharga Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu per porsi. Sedangkan dawet ayu dihargai Rp 15 ribu per gelas.

Waridi mengaku tidak khawatir meski puluhan warung berjejer menawarkan menu makanan dan minuman yang sama. "Namanya rezeki enggak ke mana, kalau Allah sudah ngasih rezeki ya pasti laku," tutur Waridi.

Ia mengaku senang dagangannya bisa menjadi tujuan wisata kuliner pemudik. Untuk penghasilan selama buka warung dadakan, dari pagi hingga petang tidak pasti.

"Kadang dapat Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu per harinya," katanya.

Manisah (50) yang juga buka warung dadakan  dawet ayu mengalami hal yang sama. Meski pendapatan tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya, ia mengaku senang bisa membuka warung dadakan setahun sekali.

"Sehari-hari saya buruh saja kadang kerja petik bawang," katanya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES