Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

 

Perpisahan dan Pelepasan Bulan Ramadhan (2-habis)

Kamis 24 Jul 2014 13:13 WIB

Red: Chairul Akhmad

Kondisi sahabat dalam melepas bulan Ramadhan sangat berbeda dengan keadaan kita.

Kondisi sahabat dalam melepas bulan Ramadhan sangat berbeda dengan keadaan kita.

Foto: Republika/Agung Supriyanto/ca

Oleh: DR Fadhlullah Muhammad Said MA*

Langit dan bumi serta malaikat turut menangis melepas kepergian bulan Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda, "Apabila malam terakhir bulan Ramadhan tiba, maka menangislah langit, bumi, dan para malaikat karena musibah menimpa umat Muhammad SAW."

Rasulullah ditanya, "Musibah apakah itu ya Rasulullah? Nabi SAW menjawab, "Perginya bulan Ramadhan, karena di bulan Ramadhan itu semua doa diijabah, semua sedekah diterima, semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan siksa ditolak (dihentikan)." (Diriwayatkan dari Jabir).

Inilah rahasia sabda Rasulullah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, "Sekiranya umatku ini mengetahui apa-apa (kebaikan) di dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar tahun semuanya itu menjadi Ramadhan.”

“Karena semua kebaikan di bulan Ramadhan, ketaatan diterima Allah SWT, doa-doa hamba dikabulkan, semua dosa dan kesalahan diampuni dan surga rindu menunggu kehadiran mereka.”

Bukti nyata ketidaktahuan kita tentang rahasia bulan Ramadhan dapat dilihat dari sikap kita menghadapi dan melepas bulan suci Ramadhan yang terkesan dingin dan sekadar bahagia dengan bentuk-bentuk lahiriyah.

Doa dan salam wada

Tepatnya malam tanggal 1 Syawal, pasti kita akan berpisah dengan bulan Ramadhan dan menutupnya dengan salat Idul Fitri pada satu Syawal. Di malam perpisahan Ramadhan itu, banyak orang yang bersedih bahkan mencucurkan air mata sambil mengucapkan salam perpisahan.

Mengucapkan salam perpisahan kepada bulan Ramadhan seyogianya kita lakukan sebagai mana yang dilakukan ulamaulama shalafu shaleh. Para ulama telah biasa wada dengan doa dan ucapan salam perpisahan.

Berikut ini salam perpisahan Zainal Abidin Al-Sajjad cicit Nabi Muhammad SAW setiap kali Ramdahan akan berpisah dengannya:

“Wahai Bulan Allah yang agung. Wahai hari raya kekasih Tuhan. Asalamu alaika, wahai waktu-waktu yang menyertai kami dengan penuh kemuliaan. Wahai bulan, detik, jam dan hari-hari kebaikan. Assalamu alaika, wahai bulan yang ketika harapan didekat kan dan amal dihamparkan.”

“Salam bagimu wahai Ramadhan, shahabat yang datang membawa kebahagian dan kepergiannya meninggalkan kepedihan. Salam bagimu wahai teman, yang membuat hati menjadi lembut dan dosa berguguran.”

“Salam bagimu wahai bulan penolong yang membantu kami melawan setan dan memudahkan menapak jalan kebaikan. Assalamu alaika ya Ramadhan. Betapa panjangnya Engkau bagi para pendurhaka. Betapa mulianya Engkau bagi hati orang-orang yang yakin. Salam bagimu wahai Ramadhan, Engkau datang pada kami membawa keberkahan dan membersihkan kami dari kesalahan.”

“Salam bagimu wahai Ramadhan, yang dirindukan sebelum kedatangannya dan disedihkan sebelum kepergiannya. Salam bagimu wahai Ramadhan karenamu betapa banyaknya kejelekan dipalingkan dari kami. Karena engkau betapa banyak kebaikan dilimpahkan pada kami.”

“Semoga sebelum Ramadhan meninggalkan kita dan berpisah dengannya, kita mampu menyembelih nafsu kebinatangan kita, menutup pintu masuknya setan, menutup pintu neraka, dan membuka pintu surga.”

Ala kulli hal, mari kita berdoa dan bermunajat dengan doa perpisahan bulan Ramadhan seperti yang diungkapkan oleh Imam Zainal Abidin al-Sajjad cicit Rasulullah SAW yaitu, “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan puasa kami saat ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidup. Sekiranya Engakau jadikan puasa ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku, maka jadikanlah sebagai puasa yang dirahmati, dan janganlah Engkau jadikan sebagai puasa yang hampa (ditolak). Amin ya rabbal Alamin.

*Ketua Yayasan Ponpes Babussalam Ciburial Dago Bandung

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA