Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

 

Prof Dr Muhammad Machasin: Target Puasa Mencapai Takwa (1)

Senin 23 Jun 2014 17:14 WIB

Red: Chairul Akhmad

Puasa disebut sebagai ibadah yang sangat tua.

Puasa disebut sebagai ibadah yang sangat tua.

Foto: Republika/Tahta Aidilla

REPUBLIKA.CO.ID, Puasa dianggap sebagai ibadah yang sangat tua dan klasik. Namun, tak banyak yang tahu persis sejak kapan kegiatan puasa dilakukan oleh umat manusia di bumi.

Apa pun itu, tak banyak yang berbeda dari tujuan puasa yang dilakukan, baik oleh manusia pada zaman dahulu maupun saat ini. Intinya adalah pengendalian diri dan langkah untuk meraih cita-cita sebagai makhluk Tuhan yang bertakwa.

Kepada wartawan Republika, Fitria Andayani, Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Dr Muhammad Machasin, menjelaskan tentang hal tersebut. Berikut petikannya:

Puasa konon adalah ibadah yang sama tuanya dengan umur umat manusia di muka bumi, benarkah demikian?
Dalam Alquran tidak dikatakan kapan puasa pertama kali dilakukan. Apakah sejak Adam kegiatan puasa sudah dilakukan atau belum, tidak ada yang bisa menjelaskan. Ada pula yang berpendapat, puasa Asyura adalah puasa yang pertama kali diwajibkan. Namun, hal itu tidak benar. Puasa Asyura ada dalam tradisi Yahudi, di dalam Islam tidak ada. Hanya puasa Ramadhan yang diwajibkan bagi umat Islam.

Allah dalam firmannya dalam surah al-Baqarah ayat 183 hanya menyatakan bahwa puasa telah juga diperintahkan kepada ‘orangorang sebelum kamu’. Kaum Nabi sebelum Rasulullah memang sudah melakukannya. Namun, metode puasanya berbeda-beda meskipun tujuannya sama, yaitu melatih fisik dan rohani manusia.

Selain Islam, agama lain dan sejumlah kelompok adat juga melakukannya, bisakah dijelaskan?
Puasa yang dilakukan oleh agama samawi, seperti Yahudi atau Kristen, cara dan tujuannya hampir sama. Karena memang ada kemiripan dalam ajarannya. Berbeda dengan Buddha di mana puasa dilakukan secara lebih intensif, tidak seperti yang dilakukan umat Islam. Penganut Buddha atau biksu melakukannya agar bisa lepas dari ikatan nafsu badaniah.

Mereka berpuasa hampir setiap hari. Mereka tidak boleh makan, tapi dibolehkan minum dari jam 12 siang hingga enam pagi. Namun, puasa yang diajarkan Islam memperhitungkan keseimbangan. Tidak terlalu berlebihan dan keras. Intinya, sejumlah agama lain memandang adanya manfaat dari berpuasa yang harus dilakoni penganutnya, terutama dalam hal mengontrol diri.







  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES