Semiotika Kemerdekaan di Istiqlal

Rep: Mg 15/ Red: A.Syalaby Ichsan

 Kamis 04 Jul 2013 07:00 WIB

Kathedral Church is located not far from Istiqlal Mosque in Jakarta, Indonesia. (file photo) Foto: Republika/Ali Said Kathedral Church is located not far from Istiqlal Mosque in Jakarta, Indonesia. (file photo)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masjid Istiqlal merupakan masjid yang terletak di ibu kota DKI Jakarta, dekat dengan pusat pemerintahan. Masjid ini di bangun pada tanggal 24 Agustus 1951. Pembangunan masjid terbesar di Asia Tenggara ini, memakan waktu sekitar  17 tahun.

Masjid ini dibangun pada zaman Ir. Soekarno. Frederich Silaban, seorang Kristen Protestan, terpilih sebagai arsitek yang memenangkan sayembara untuk pembangunan masjid Istiqlal ini. Masjid ini memiliki gaya modern Internasional yang bercampur antara Timur Tengah dan Indonesia. 

Bangunan masjid Istiqlal ini memiliki 1 buah kubah kecil berdiameter 8 meter yang ditengahnya terdapat tiang yang menopang lambang bulan dan bintang yang tingginya 17 meter. Masjid ini juga terdapat kubah besar berdiameter 45 meter. 

Ukuran ini mempunyai arti tentang kemerdakaan Indonesia yang menyatakan diri merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.  Terdapat 12 tiang atau pilar yang menopang bangunan utama masjid. 

Dua belas tiang ini melambangkan kelahiran Nabi Muhammad saw, yaitu pada tanggal 12 Rabi'ul Awal. Bangunan masjid ini terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. Lima lantai dasar ini melambangkan rukun Islam. Masjid ini mampu menampung lebih dari dua ratus ribu jamaah. 

Masjid ini tidak hanya di gunakan untuk ibadah umat muslim, namun masjid ini juga digunakan sebagai kantor berbagai organisasi Islam di Indonesia, aktivitas sosial, bahkan kegiatan umum seperti marching band.

Masjid Istiqlal bisa dikategorikan sebagai satu-satunya masjid yang mempunyai kegiatan marching band di dunia. Masjid Istiqlal ini juga merupakan sasaran wisatawan dalam negri dan terkadang banyak wisawatan asing yang beragama Islam pun berkunjung ke masjid ini.

 Bukan berarti masyarakat yang beragama non-muslim tidak boleh masuk kedalam masjid ini, warga non-muslim diizinkan masuk namun sebelumnya mendapat pembekalan informasi mengenai Islam dan Masjid Istiqlal, namun bagian yang boleh dikunjungi kaum non-muslim tetap terbatas dan harus di damping pemandu. 

Di karenakan Masjid Istiqlal adalah masjid nasional Republik Indonesia, setiap acara besar atau peringatan hari besar Islam diadakan di masjid ini.

Seperti, Hari Raya Idul Adha, Idul Fitri, Isra Mi’raj dan Maulid Nabi di gelar di masjid ini dan diliput di TV nasional dan beberapa TV swasta. Begitu menariknya masjid Istiqlal membuat media tertarik untuk meliput kegiatan yang diadakan oleh masjid ini. 

Tidak hanya itu, kedekatan masjid ini dengan Gereja Katedral Jakarta menjadi simbol keharmonisan antarumat beragama di Indonesia. Jika sewaktu umat Katolik sedang merayakan hari besar keagamaan Katolik diperkenankan menggunakan lahan parkir Masjid Istiqlal.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X