Saturday, 16 Zulhijjah 1440 / 17 August 2019

Saturday, 16 Zulhijjah 1440 / 17 August 2019

 

Berperang Ketika Puasa

Selasa 02 Jul 2013 16:00 WIB

Rep: Fitria Andayani/ Red: A.Syalaby Ichsan

Lokasi Perang Badar (ilustrasi)

Lokasi Perang Badar (ilustrasi)

Foto: wikipedia

REPUBLIKA.CO.ID, Meski ada kewajiban berpuasa pada bulan Ramadhan, namun sejarah mencatat sejumlah perang besar yang terjadi pada bulan suci ini.

Rasulullah dan para pengikutnya tak segan mengangkat senjata meski perut kelaparan dan mulut terasa seperti terbakar karena kehausan. 

Mereka sadar betul, jihad adalah kewajiban dan apa pun akan mereka lakukan untuk menyebarluaskan dan menjaga kewibawaan Islam.

Hebatnya, meski berperang dalam keadaan berpuasa ditambah lagi dengan minimnya persenjataan dan jumlah orang, namun Rasulullah dan pasukannya mampu memenangi sejumlah peperangan besar. 

Salah satu perang besar yang terjadi saat Ramadhan adalah Perang Badar. Perang ini terjadi pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadhan 2 Hijriah.

Badar adalah nama lembah yang terletak di antara Madinah dan Makkah. Perang ini hanya melibatkan 313 orang Islam. Padahal, mereka harus menghadapi 1.000 tentara musyrikin Makkah yang bersenjata lengkap. 

Sebelum pertempuran ini, kaum Muslimin dan penduduk Makkah telah terlibat dalam beberapa kali konflik bersenjata skala kecil.

Perang Badar adalah pertempuran skala besar pertama yang pecah antara dua kekuatan itu. Saat itu, Makkah merupakan salah satu kota terkaya dan terkuat di Jazirah Arab pada jaman jahiliah. 

Meski kalah jumlah personel, pasukan Islam mampu menandingi kekuataan kaum kafir. Dalam perang ini, sebanyak 70 tentara musyrikin tewas, 70 ditawan, dan sisanya melarikan diri.

“Sesungguhnya Allah membantu kamu dalam Perang Badar, sedangkan pada waktu itu kamu orang yang lemah. Sebab itu, bertakwalah kepada Allah agar kamu mensyukurinya.” (QS Ali ‘Imran: 123 - 125). 

Kemenangan kaum Muslimin ini mem perlihatkan bahwa kekuatan baru telah bangkit di tanah Arab. Kemenangan dalam Perang Badar juga memperkokoh otoritas Muhammad sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering bertikai.

Pascaperang tersebut, semakin banyak warga Makkah yang memeluk Islam dan membangun persekutuan dengan kaum Muslimin di Madinah. 

Sumber : Harian Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES