Rabu 20 Apr 2022 07:34 WIB

Inggris Berencana Cabut Status Bursa Efek Moskow

Inggris berencana membalas pembatasan Rusia terhadap bank-bank asing.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Dwi Murdaningsih
Petugas polisi berjaga di depan  spanduk berwarna bendera Rusia. Pemerintah Inggris berencana mencabut status Bursa Efek Moskow atau Moscow Stock Exchange’s (MOEX) sebagai bursa saham yang diakui.
Foto: AP/Czarek Sokolowski
Petugas polisi berjaga di depan spanduk berwarna bendera Rusia. Pemerintah Inggris berencana mencabut status Bursa Efek Moskow atau Moscow Stock Exchange’s (MOEX) sebagai bursa saham yang diakui.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Pemerintah Inggris berencana mencabut status Bursa Efek Moskow atau Moscow Stock Exchange’s (MOEX) sebagai bursa saham yang diakui. Hal itu masih berkaitan atas serangan militer Rusia ke Ukraina.

“Mencabut status yang diakui Bursa Efek Moskow mengirimkan pesan yang jelas, tidak ada kasus untuk investasi baru di Rusia,” kata Sekretaris Keuangan untuk Perbendaharaan Britania Raya Lucy Frazer dalam sebuah pernyataan, Selasa (19/4/2022).

Baca Juga

Menurut Inggris, langkah tersebut merupakan tanggapan atas pembatasan yang dikenakan Bank Rusia kepada investor-investor asing. Dalam konteks ini, mereka mengutip peraturan Moskow pada 28 Februari lalu yang mencegah pialang menjual aset atas instruksi penduduk non-Rusia.

Otoritas pajak Britain’s HMRC telah meluncurkan konsultasi selama dua pekan tentang langkah pencabutan tersebut. “Kami telah merancang perintah pencabutan sedemikian rupa sehingga investor tidak akan mengalami perubahan sehubungan dengan investasi mereka yang sudah ada sebelumnya di MOEX,” kata HMRC.

Sebelumnya Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, situasi perekonomian di negaranya stabil. Nilai tukar mata uang rubel juga kembali ke level seperti awal Februari, yakni sebelum Rusia menggelar “operasi militer khusus” di Ukraina.

“Rusia telah bertahan dari tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini. Situasinya stabil, nilai tukar rubel telah kembali ke level paruh pertama Februari dan ditentukan oleh keseimbangan pembayaran yang kuat secara objektif,” kata Putin pada Senin (18/4/2022), dikutip laman kantor berita Rusia, TASS.

Menurut Putin, inflasi di Rusia pun stabil saat ini. "Saya secara terpisah akan mencatat masalah inflasi. Sekarang stabil," ujarnya.

Putin mengungkapkan, Bank Sentral Rusia juga mulai menurunkan suku bunga. “Ini tentunya akan membuat kredit dalam perekonomian lebih murah,” ujarnya.

Sejak melancarkan serangan militer ke Ukraina, Rusia sudah dijatuhi sanksi ekonomi berlapis oleh Barat. Banyak perusahaan asing, terutama dari Eropa dan Amerika, yang memutuskan menangguhkan atau bahkan menghentikan bisnisnya di Rusia.

Amerika Serikat (AS) bersama Uni Eropa dan Inggris juga mengeluarkan Rusia dari Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication atau SWIFT. Ia merupakan jaringan keamanan tinggi yang menghubungkan ribuan lembaga keuangan di seluruh dunia. SWIFT memungkinkan bank untuk memindahkan uang dengan cepat dan aman, mendukung triliunan dolar dalam arus perdagangan serta investasi. Dikeluarkannya Rusia dari SWIFT dianggap sebagai hukuman ekonomi terberat. Karena dengan sanksi itu, Moskow menjadi lebih terisolasi secara ekonomi dibandingkan sebelumnya.

Tak berhenti di sana, sejumlah negara Barat pun menerapkan larangan ekspor-impor dari dan ke Rusia. Saat ini Eropa sedang berusaha menyetop ketergantungan mereka pada pasokan energi Rusia. Serangkaian sanksi Barat sempat membuat nilai rubel merosot di hadapan dolar AS.

Salah satu upaya Rusia mengonter rentetan sanksi Barat adalah dengan mewajibkan pembayaran menggunakan mata uang rubel untuk pembelian gas mereka. Pada Maret lalu, Moskow telah mengusulkan agar pembeli gas Rusia membuka rekening di Gazprombank. Pembayaran menggunakan euro atau dolar akan dikonversi ke rubel. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement