Selasa 19 Apr 2022 20:12 WIB

BI: Pertumbuhan Kredit Lebih Sustain

Pertumbuhan kredit membaik mencerminkan pemulihan ekonomi terus berlanjut

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Gita Amanda
Pertumbuhan kredit nasional terus membaik yang mencerminkan pemulihan ekonomi terus berlanjut.  (ilustrasi)
Foto: Republika/Prayogi
Pertumbuhan kredit nasional terus membaik yang mencerminkan pemulihan ekonomi terus berlanjut. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pertumbuhan kredit nasional terus membaik yang mencerminkan pemulihan ekonomi terus berlanjut. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan intermediasi perbankan pada Maret 2022 melanjutkan perbaikan dibandingkan dengan bulan sebelumnya dengan kredit tumbuh sebesar 6,65 persen (yoy).

"Pertumbuhan kredit terjadi di berbagai kelompok bank, segmen kredit, dan sektor ekonomi termasuk subsektor prioritas, seiring berlanjutnya pemulihan aktivitas korporasi dan rumah tangga," katanya dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI, Selasa (19/4/2022).

Baca Juga

Pemulihan kinerja korporasi juga terus berlanjut, yang tercermin dari perbaikan penjualan dan belanja modal, serta terjaganya kemampuan membayar. Sementara dari sisi penawaran, standar penyaluran kredit terus melonggar seiring menurunnya persepsi risiko kredit.

 

Pertumbuhan kredit UMKM juga meningkat sebesar 14,98 persen (yoy) pada Maret 2022. Khususnya bersumber dari kredit mikro dan kecil. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada 2022 masih sesuai prakiraan, yaitu masing-masing dalam kisaran 6,0-8,0 persen dan 7,0-9,0 persen.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti menambahkan, BI memproyeksi pertumbuhan kredit akan lebih berkelanjutan. Hal ini didasarkan pada penilaian sejumlah indikator terhadap sekitar 499 perusahaan nasional.

"Memang dari sisi pertumbuhan kredit, kami melihat akan lebih sustain, dari sisi pasokan dan demand terjadi peningkatan yang cukup stabil," katanya.

BI melakukan penilaian terhadap 499 perusahaan terkait tingkat penjualan (sales) dan Capital expenditure (CapEx). Menurut Destry, terjadi peningkatan sales dan capex yang signifikan sejak 2021 yang artinya kondisi perusahaan mayoritas membaik.

Sales dan capex yang tumbuh ini membuat indikator kredit juga meningkat, yakni untuk kredit modal kerja dan kredit investasi. Operasional perusahaan yang membaik membutuhkan kredit modal kerja, begitu juga dengan kredit investasi untuk ekspansi.

"Jadi memang appetitenya sudah meningkat, sehingga kita melihat kredit pertumbuhannya cukup baik, dan signifikan, terutama di sektor pertanian dan pertambangan," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement