Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

KJRI Shanghai Terapkan WFH, Pelayanan Kekonsuleran Terhenti

Selasa 19 Apr 2022 23:55 WIB

Red: Esthi Maharani

Warga dirawat di rumah sakit darurat Covid-19 di Shanghai, China, 18 April 2022. Shanghai melaporkan tiga kematian dan 2.417 kasus baru transmisi lokal Covid-19.

Warga dirawat di rumah sakit darurat Covid-19 di Shanghai, China, 18 April 2022. Shanghai melaporkan tiga kematian dan 2.417 kasus baru transmisi lokal Covid-19.

Foto: EPA-EFE/SHAN SHI CHINA OUT
KJRI Shanghai menerapkan pola bekerja dari rumah (WFH) secara total

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Konsulat Jenderal RI di Shanghai, China, menerapkan pola bekerja dari rumah (WFH) secara total untuk para stafnya hingga batas waktu yang belum ditentukan seiring dengan diberlakukannya penguncian wilayah atau lockdown sebagai upaya menekan lonjakan kasus positif Covid-19.

"Dengan WFH ini, maka pelayanan kekonsuleran terhenti," kata Konsul Jenderal RI di Shanghai Deny Kurnia, Selasa (19/4/2022).

Kekonsuleran merupakan pelayanan terbesar KJRI Shanghai kepada warga negara Indonesia (WNI), terutama yang terkena kasus pelanggaran izin tinggal (overstay). Pelayanan kekonsuleran, sebut Konjen, tidak bisa dilakukan secara daring sehingga dia berpesan kepada WNI overstayer untuk bersabar sambil menunggu situasi pandemi mereda.

Keputusan WFH total diambil oleh pengelola gedung Shanghai Mart Building di Yan'an Road West No 299, Distrik Changning, tempat KJRI berada, sejak 1 April lalu. Selain KJRI Shanghai, di gedung bertingkat tersebut juga ada Pusat Promosi Perdagangan Indonesia (ITPC) Shanghai.

"Sebenarnya sejak 15 Maret, jumlah kehadiran staf sudah mulai berkurang. Namun per 1 April sudah total WFH," kata Deny.

Kalau pun harus masuk kantor, lanjut dia, maka pihak pengelola Shanghai Mart Building memberikan persyaratan bahwa domisili staf harus di kawasan bebas Covid-19. Persyaratan tersebut sangat sulit dipenuhi karena hampir semua wilayah di kota terkaya yang berlokasi di pesisir timur China itu termasuk kategori berisiko Covid-19. Menurut perkiraannya, ada sekitar 600 WNI di Shanghai yang semuanya terdampak lockdown.

"Dari jumlah itu, 330-an WNI kita aktif dalam berkomunikasi melalui WeChat Group dengan kami," kata Konjen.

Kota berpenduduk 26 juta jiwa itu di-lockdown sejak 28 Maret 2022. Lockdown tersebut telah mengalami perpanjangan beberapa kali karena penambahan kasus hariannya mencapai lima digit. Otoritas kesehatan Shanghai pada Selasa pagi melaporkan 3.084 kasus positif baru dan 17.332 kasus tanpa gejala.

Sejak lonjakan Covid-19 varian Omicron melanda Shanghai pada 26 Januari hingga kini sudah tercatat tiga kasus kematian dan 16 pasien lainnya sampai saat ini dalam kondisi kritis.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA