Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

Sampah Plastik Banjiri Hotel Karantina Hong Kong

Selasa 19 Apr 2022 11:53 WIB

Rep: Dwina agustin/ Red: Friska Yolandha

Pekerja hotel mengenakan alat pelindung diri, membawa sampah dari hotel isolasi di Hong Kong, Sabtu, 2 April 2022.

Pekerja hotel mengenakan alat pelindung diri, membawa sampah dari hotel isolasi di Hong Kong, Sabtu, 2 April 2022.

Foto: AP Photo/Kin Cheung
Kebijakan protokol Covid-19 Shanghai menilai dapat merusak lingkungan karena sampah.

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Plastik membanjiri hotel karantina di Hong Kong. Remote control dibungkus plastik, bantal dibungkus kantong plastik, makanan dilengkapi dengan peralatan makan plastik.

Kebijakan karantina ketat Hong Kong yang dimaksudkan untuk menghentikan Covid-19 di perbatasan dan di tengah masyarakat telah menuai banyak kritik karena merusak ekonomi dan kesehatan mental. Namun, kini desakan muncul dari para pemerhati lingkungan yang menilai kebijakan itu juga merusak lingkungan dengan menghasilkan limbah berlebih.

Baca Juga

"Setiap anggota staf di sini memakai APD lengkap, pakaian, sarung tangan, sepatu bot, topi, dan itu setiap anggota staf dan di setiap lantai," kata pengusaha perawatan kulit yang berbasis di Hong Kong Clementine Vaughan.

"Telepon, Anda tahu, remote control, semuanya dibungkus plastik," katanya dari hotel karantina usai tiba pada 4 April.

Menurut data pemerintah Hong Kong, negara itu membuang lebih dari 2.300 ton sampah plastik setiap hari, dan dengan tingkat daur ulang hanya 11 persen. Sebagian besar limbah tersebut masuk ke tempat pembuangan sampah.

Juru bicara pemerintah mengatakan, para pejabat menyadari lonjakan sampah sekali pakai sejak Covid-19 dimulai. Pemerintah sudah mencoba mendesak warga untuk mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan semaksimal mungkin.

Edwin Lau dari kelompok lingkungan lokal The Green Earth mengatakan, pendekatan Hong Kong terhadap Covid-19 mencerminkan kurangnya kesadaran lingkungan. "Orang yang tinggal di hotel karantina, mereka bukan kasus yang dikonfirmasi," kata Lau mendesak pemerintah untuk mengizinkan daur ulang atau penggunaan kembali plastik dari fasilitas karantina.

Hong Kong telah mengkarantina puluhan ribu orang tahun ini di fasilitas untuk orang yang positif Covid-19 dan kontak dekat. Keputusan tindakan zero-Covid ini justru menambah masalah sampah, apalagi semua makanan datang dalam kantong plastik.

Anggota dewan distrik Paul Zimmerman mengatakan, fasilitas itu juga boros karena tidak dapat digunakan dalam jangka panjang, seperti untuk perumahan umum. "Mereka telah dibangun dengan sangat cepat, (dan tidak) sesuai dengan standar bangunan tertentu yang kami miliki di Hong Kong," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA