Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

Lima Tren Digital Marketing yang Perlu UMKM Tahu

Senin 02 May 2022 09:30 WIB

Red: Nidia Zuraya

Produk kerajinan UMKM.  (ilustrasi)

Produk kerajinan UMKM. (ilustrasi)

Foto: Republika/Wihdan
Seorang digital marketer harus berkarakter agile (lincah) dan adaptif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Digital marketing atau pemasaran digital semakin penting bagi pelaku usaha, termasuk usaha mikro kecil menengah (UMKM), seiring perkembangan teknologi dan perilaku konsumen yang juga semakin digital."Berdasarkan data, pelaku UMKM yang mampu menerapkan digital marketing dengan tepat bisa mencapai potensi pertumbuhan pendapatan hingga 3x lipat lebih besar. Inilah pentingnya mempelajari skill digital marketing, karena bisnis yang tidak menjalankannya akan tertinggal jauh dari para kompetitor," kata AVP Marketing Lifelong Zenpro di Zenius Ary Mozta.

Ary Mozta mengatakan bahwa Zenpro bisa menjadi platform yang tepat karena pelatihan ini tersedia gratis dan bisa menyesuaikan dengan kesibukan masing-masing peserta. Seorang digital marketer harus berkarakter agile (lincah) dan adaptif, karena banyak platform digital dan media sosial tersedia, ditambah tren pemasaran yang terus berubah sepanjang tahun. 

Baca Juga

Mereka harus terus memperbarui kemampuannya.Berikut lima tren digital marketing dari Zenpro yang perlu diketahui para pelaku UMKM:

1. Penggunaan video pendek

Kemunculan Tiktok sebagai pendatang baru media sosial beberapa tahun lalu mengubah lanskap marketing di dunia. Kini, bentuk promosi menggunakan video klip pendek (antara 1-5 menit) menjadi tren baru yang disukai oleh para audiens.

Menurut Wyzowl's State of Video Marketing Survey, 92 persen dari marketer kini sudah memasukkan video sebagai salah satu elemen terpenting untuk kegiatan promosional. Menariknya, 87 persen di antaranya mengaku bahwa penggunaan video memberikan imbal balik (return of investment - ROI) yang sepadan, dan 81 persen menambahkan bahwa penggunaan video berdampak langsung pada kenaikan penjualan.

2. Kerja sama dengan influencer

Penggunaan tokoh-tokoh terkenal di media sosial masih akan terus menjadi tren. Menurut data Google, 70 persen remaja lebih percaya pada rekomendasi influencer dibandingkan selebritas. 

Di Indonesia sendiri, 62 persen pengguna internet melakukan pembelian produk tertentu setelah melihat konten promosional dari influencer. 

3. Penjualan via media sosial

Kini, setiap platform media sosial berupaya mempermudah pengguna untuk melakukan pembelian langsung untuk produk yang sedang mereka lihat. Karena itu, belanja di media sosial (social shopping) diperkirakan akan menjadi tren yang berkembang pesat, bahkan nilainya bisa mencapai 1,2 triliun dolar secara global pada tahun 2025.

4. Daya tarik konten soft-selling

Seiring dengan semakin banyaknya konten yang beredar di internet, kini strategi marketing harus dirancang sedemikian rupa agar tidak melulu berjualan. Ini akan membuat konsumen justru jengah atau menganggapnya hanya iklan yang mengganggu.

Sebaliknya, kini pelaku bisnis harus membuat konten yang menarik, relevan, dan berguna untuk target audiens mereka. Misalnya, ketika berjualan sepatu, mereka bisa membuat konten tentang cara menjaga kebersihan sepatu atau cara memilih sepatu olahraga yang tepat. Hal ini akan mendapatkan sambutan yang lebih baik dari para audiens.

5. Personalisasi

Konsumen masa kini menginginkan personalisasi lebih. Misalnya, kini digital marketing tidak cukup hanya dengan membuat 1 post iklan yang sama untuk semua demografi. 

Harus ada personalisasi yang kuat sesuai dengan audiens yang ingin disasar.Misalnya, untuk demografi Gen Z, post iklan akan mempromosikan produk dengan warna yang sedang tren, sementara untuk demografi lebih tua, post iklan menekankan pada kenyamanan produk. Perhatikan apa daya tarik untuk masing-masing audiens, dan modifikasi strategi sesuai kebutuhan tersebut.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA