Senin 18 Apr 2022 06:17 WIB

Ada G20, Mendagri Minta Bali Kelola Sampah Secara Optimal

Bali akan dikunjungi ribuan orang, mulai dari peserta dan delegasi banyak negara

Rep: mimi kartika/ Red: Hiru Muhammad
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian (tengah) bersama Gubernur Bali Wayan Koster (kiri) melakukan edukasi memilah sampah saat peluncuran aksi #GILAsSAMPAH (Gerakan Inovasi Langsung Aksi Tuntaskan Sampah) di Pantai Jerman, Badung, Bali, Ahad (17/4/2022). Kegiatan yang digelar oleh Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Indonesia International Waste Expo (IIWAS) dengan tema ?Sampah Dipilah Itu Duit? untuk mengajak pemerintah daerah dan masyarakat peduli terhadap kebersihan lingkungan dalam upaya penanganan dan pengelolaan sampah serta mendukung kesuksesan penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali.
Foto: ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian (tengah) bersama Gubernur Bali Wayan Koster (kiri) melakukan edukasi memilah sampah saat peluncuran aksi #GILAsSAMPAH (Gerakan Inovasi Langsung Aksi Tuntaskan Sampah) di Pantai Jerman, Badung, Bali, Ahad (17/4/2022). Kegiatan yang digelar oleh Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Indonesia International Waste Expo (IIWAS) dengan tema ?Sampah Dipilah Itu Duit? untuk mengajak pemerintah daerah dan masyarakat peduli terhadap kebersihan lingkungan dalam upaya penanganan dan pengelolaan sampah serta mendukung kesuksesan penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meluncurkan Gerakan Inovasi Langsung Aksi Tuntaskan Sampah atau #GILAsSampah di Pantai Jerman, Kecamatan Kuta, Bali, pada Ahad (17/4). Mengingat Provinsi Bali menjadi salah satu tuan rumah rangkaian kegiatan Presidensi G20 Indonesia, Tito mengatakan, penanganan sampah yang optimal serta lingkungan yang bersih mesti benar-benar diperhatikan.

Sebab, lanjut dia, aspek tersebut menjadi representasi wajah Bali secara khusus, dan Indonesia secara umum dalam mengimplementasikan kebudayaan timur yang sopan, bersih, dan aman. Apalagi dalam pelaksanaan G20, salah satu tema yang diangkat yakni mengenai persoalan iklim dan pemanasan global.

Baca Juga

"Kita harus tunjukkan juga bahwa kita bisa mengelola lingkungan, yang paling gampang adalah sampah-sampah, harus bagus harus bersih," ujar Tito dalam siaran persnya, Ahad (18/4).

Dalam perhelatan internasional G20 tersebut, Tito menjelaskan, Bali akan dikunjungi ribuan orang, mulai dari peserta dan delegasi banyak negara di dunia. Mereka diperkirakan bakal berwisata.

Karena itu, Tito meminta berbagai pihak menunjukkan kapasitas memadai dalam mengelola lingkungan, terutama sampah. Penanganan sampah perlu dilakukan dengan kolaborasi berbagai pihak, dari hulu sampai ke hilir, yang juga membutuhkan koordinasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah (pemda).

Dalam konteks tersebut, Tito mengatakan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan telah menginisiasi gerakan penanganan sampah. Luhut juga telah menugaskan salah satu deputinya untuk menghadiri aksi #GILAsSampah bersama kementerian dan lembaga lainnya.

Berkaitan dengan itu, Kemendagri menekankan, penanganan sampah tidak hanya dilakukan Provinsi Bali. Bahkan, Tito mengaku telah mengundang sekretaris daerah (sekda) se-Indonesia dalam agenda pembukaan Indonesia Internasional Waste (IIWAS) Expo Trisenses Bali 2022 yang akan berlangsung pada Senin (18/4).

"Bapak Menko Marves yang mengoordinasi, Kemendagri mengambil momentum. Jangan hanya Bali, kita ingin seluruh Indonesia bersih. Maka saya undang seluruh pemda, agar semua daerah bersih, kota dan kabupatennya bersih, bukan hanya karena ada G20 saja," tandas Mendagri," ucap dia.

Dalam agenda IIWAS Expo Trisenses Bali 2022 tersebut, sejumlah pemda akan diundang sebagai pembicara. Adapun topiknya yakni seputar keberhasilan pengelolaan sampah oleh daerah tersebut.

Menurut Tito, Bali menjadi salah satu daerah yang baik dalam menangani sampah dari hulu, terutama yang bersumber dari lingkup rumah tangga. Dia mengharapkan agar upaya memilah sampah antara organik dan nonorganik dicontoh oleh daerah yang lain."Bahkan kita lebih awal lagi harusnya memperkuatkan kampanye untuk mengurangi penggunaan barang berbahan dasar plastik, produksi-produksi sampah plastik, kantong kresek plastik, diganti dengan yang organik, ada yang dari ubi segala macam itu banyak sekali produksinya," tutur Tito.

 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement