Saturday, 5 Rabiul Awwal 1444 / 01 October 2022

Ketegangan Israel-Palestina Meningkat di Bulan Ramadhan, Warga Gaza Takut akan Perang

Ahad 17 Apr 2022 11:27 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Dwi Murdaningsih

Para wanita mengibarkan bendera Palestina dan meneriakkan slogan-slogan selama rapat umum solidaritas dengan penduduk Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem, di Kota Gaza, Jumat, 15 April 2022.

Para wanita mengibarkan bendera Palestina dan meneriakkan slogan-slogan selama rapat umum solidaritas dengan penduduk Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem, di Kota Gaza, Jumat, 15 April 2022.

Foto: AP/Adel Hana
Warga Gaza takut perang akan pecah lagi.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Para analis politik memperkirakan, ketegangan di wilayah Palestina yang diduduki Israel sedang menuju letusan skala besar pada Ramadhan ini. Penduduk Jalur Gaza yang terkepung takut akan perang lagi.

“Kami bergerak secara bertahap menuju eskalasi, kondisinya sudah siap untuk ledakan,” kata analis politik yang berbasis di Yerusalem, Mazen Jaabari dilansir dari Aljazirah, Kamis (14/4/2022).

Baca Juga

Tahun lalu, meningkatnya ketegangan seputar pengusiran keluarga Palestina dari rumah mereka di Yerusalem adalah katalisator meluasnya protes Palestina di seluruh Israel dan wilayah Palestina yang diduduki.

Penggerebekan Masjid Al-Aqsa oleh pasukan keamanan Israel selama bulan suci Ramadhan semakin meningkatkan ketegangan lebih lanjut. “Eskalasi mungkin datang dari tempat yang berbeda, termasuk tidak harus dari Yerusalem,” kata Jaabari. 

Sejak 22 Maret 2022, peningkatan tajam dalam serangan telah menyebabkan meninggalnya 14 orang, termasuk tiga petugas polisi. Sementara itu, menurut kementerian kesehatan Palestina, 36 warga Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel sejak Januari, termasuk dua Kamis lalu di kota Jenin di Tepi Barat yang diduduki.

Jenin telah muncul sebagai titik nyala dalam kekerasan baru-baru ini. Konfrontasi bersenjata antara pejuang Palestina dan pasukan Israel di sana dalam beberapa hari terakhir terjadi di tengah peningkatan serangan tentara Israel. 

Kekhawatiran tumbuh dari kemungkinan invasi besar-besaran Israel ke kamp pengungsi Jenin, di mana sayap bersenjata Jihad Islam Palestina (PIJ) dan gerakan Fatah aktif.

Pada 10 April, seorang juru bicara PIJ mengancam bahwa agresi yang berkelanjutan di kamp Jenin akan segera mengarah pada konfrontasi terbuka dan penuh. “Hal-hal kemungkinan akan meletus melihat perkembangan di lapangan,” ujar juru bicara Hamas, Hazem Qassem yang memerintah Jalur Gaza yang terkepung.

“Hamas tidak akan tinggal diam jika pemukim Israel terus menyerbu Masjid Al-Aqsha,” kata Qassem, seraya menambahkan bahwa Hamas mendukung kelompok bersenjata Palestina di Jenin.

 

 

Gaza takut akan perang lagi

Penduduk Jalur Gaza mengatakan bahwa, di mana pun potensi konfrontasi terjadi, mereka percaya bahwa merekalah yang akan mengalami nasib paling buruk.

Ramadhan telah berulang kali disertai dengan perang di Gaza, di mana dua gerakan perlawanan bersenjata utama Palestina, Hamas dan PIJ, bermarkas. Dari empat perang Israel di Jalur Gaza, dua telah meletus di bulan suci.

Selama pemboman Israel pada Mei 2021, setidaknya 260 warga Palestina tewas, termasuk 39 wanita dan 67 anak-anak, dan lebih dari 1.900 orang terluka. Sekitar 1.800 unit rumah dihancurkan, dan sedikitnya 14.300 lainnya rusak parah.

Seorang ibu dari lima anak, Buthaina al-Qamo (48), mengatakan bahwa dia takut akan perang Israel lainnya di Gaza pada Ramadhan ini. Ia mengatakan, bahwa suaminya meninggal dalam serangan udara Israel yang menargetkan bangunan tempat tinggal mereka dan satu lagi di dekatnya pada 16 Mei 2021. Secara total, 45 warga Palestina tewas dalam serangan itu, termasuk 18 anak-anak dan 12 wanita.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA