Rabu 13 Apr 2022 22:01 WIB

Rusia: Ribuan Marinir Ukraina di Mariupol Menyerah

Para marinir Ukraina dibombardir selama berminggu-minggu.

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Teguh Firmansyah
Seorang pria berjalan dengan sepeda di jalan yang rusak akibat penembakan di Mariupol, Ukraina, 10 Maret 2022.
Foto: AP/Evgeniy Maloletka
Seorang pria berjalan dengan sepeda di jalan yang rusak akibat penembakan di Mariupol, Ukraina, 10 Maret 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, MARIUPOL -- Kementerian Pertahanan Rusia menyebut ada lebih dari 1.000 marinir Ukraina di pelabuhan Mariupol telah menyerah.  Para marinir itu dikelilingi dan dibombardir oleh pasukan Rusia selama berminggu-minggu dan menjadi fokus beberapa pertempuran paling sengit dalam perang. Jika klaim itu benar, Mariupol akan menjadi kota besar pertama yang jatuh sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari.

Kementerian pertahanan Rusia mengatakan bahwa 1.026 marinir telah menyerah, termasuk 162 perwira. “Di kota Mariupol, dekat Pabrik Besi dan Baja Ilyich, sebagai hasil dari serangan yang berhasil oleh angkatan bersenjata Rusia dan unit milisi Republik Rakyat Donetsk, 1.026 tentara Ukraina dari Brigade Marinir ke-36 secara sukarela meletakkan senjata dan menyerah,” jelas kementerian tersebut dalam  sebuah pernyataan dilansir dari Arab News, Rabu (13/4/2022).

Baca Juga

Staf umum Ukraina mengatakan pasukan Rusia melanjutkan serangan ke Azovstal dan pelabuhan. Namun juru bicara kementerian pertahanan mengatakan dia tidak memiliki informasi tentang penyerahan diri. Wartawan Reuters yang menemani separatis yang didukung Rusia melihat api mengepul dari distrik Azovstal pada Selasa.

Pada Senin, Brigade Marinir ke-36 mengatakan sedang mempersiapkan pertempuran terakhir di Mariupol yang akan berakhir dengan kematian atau penangkapan karena pasukannya kehabisan amunisi.

"Ribuan orang diyakini telah tewas di Mariupol dan Rusia telah mengerahkan ribuan tentara di daerah itu untuk melakukan serangan baru," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Ukraina mengatakan puluhan ribu warga sipil telah terperangkap di dalam kota tanpa punya cara untuk membawa makanan atau air. Ia juga menuduh Rusia memblokir konvoi bantuan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement