Tuesday, 18 Muharram 1444 / 16 August 2022

Harga Minyak Naik di Tengah Kekhawatiran Pasokan

Rabu 13 Apr 2022 16:11 WIB

Red: Friska Yolandha

Aktivis organisasi lingkungan Greenpeace melukis kata-kata di kapak Rusia. Harga minyak naik tipis di sesi Asia pada Rabu (13/4/2022) sore, setelah Moskow mengatakan pembicaraan damai dengan Ukraina telah menemui jalan buntu.

Aktivis organisasi lingkungan Greenpeace melukis kata-kata di kapak Rusia. Harga minyak naik tipis di sesi Asia pada Rabu (13/4/2022) sore, setelah Moskow mengatakan pembicaraan damai dengan Ukraina telah menemui jalan buntu.

Foto: Frank Molter/dpa via AP
Data ekonomi yang lemah dari China dan Jepang membatasi kenaikan harga minyak.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Harga minyak naik tipis di sesi Asia pada Rabu (13/4/2022) sore, setelah Moskow mengatakan pembicaraan damai dengan Ukraina telah menemui jalan buntu. Ini memicu kekhawatiran pasokan. Sementara data ekonomi yang lemah dari China dan Jepang membatasi kenaikan.

Minyak mentah berjangka Brent naik 22 sen atau 0,2 persen, menjadi diperdagangkan di 104,86 dolar AS per barel pada pukul 06.26 GMT. Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 8 sen atau 0,1 persen, menjadi diperdagangkan di 100,68 dolar AS per barel, setelah turun di awal sesi.

Baca Juga

Kedua kontrak acuan minyak berjangka telah melonjak lebih dari 6,0 persen pada Selasa (12/4/2022). "Penurunan harga minyak terbatas," kata analis pasar senior OANDA Jeffrey Halley, mengutip pembicaraan damai yang menemui jalan buntu dan komentar dari Presiden AS Joe Biden yang menuduh Rusia melakukan genosida. Ini memperkuat bahwa situasi Ukraina-Rusia tidak akan berkurang dalam waktu dekat.

Putin pada Selasa (12/4/2022) menyalahkan Ukraina karena menggagalkan pembicaraan damai, dan mengatakan Moskow tidak akan menyerah pada apa yang disebutnya "operasi militer khusus" untuk melucuti senjata tetangga baratnya itu.

Minyak mentah berjangka juga mendapat dukungan dari penurunan produksi kondensat minyak dan gas Rusia menjadi di bawah 10 juta barel per hari (bph) pada Senin (11/4/2022), terendah sejak Juli 2020.

Sanksi Barat terhadap Rusia setelah menginvasi Ukraina dan kendala logistik telah menghambat perdagangan, orang yang mengetahui data tersebut mengatakan pada Selasa (12/4/2022).

OPEC telah memperingatkan tidak mungkin untuk mengganti potensi kehilangan pasokan dari Rusia dan mengisyaratkan tidak akan memompa lebih banyak minyak mentah. 

Laporan minggu ini tentang pelonggaran sebagian dari beberapa tindakan penguncian ketat COVID-19 China juga mendukung harga minyak. Ada optimisme bahwa dengan pelonggaran penguncian China secara perlahan di beberapa daerah, permintaan bahan bakar akan pulih, kata Tina Teng, seorang analis di CMC Markets.

Namun, data ekonomi yang lemah dari China dan Jepang membatasi kenaikan harga minyak. Impor minyak mentah China turun 14 persen dari tahun sebelumnya, memperpanjang penurunan dua bulan, karena pembatasan ketat COVID memukul permintaan di importir minyak mentah utama dunia.

Jepang melaporkan penurunan bulanan terbesar dalam pesanan mesin inti dalam hampir dua tahun pada Februari, terseret oleh penurunan tajam dalam permintaan dari perusahaan TI dan perusahaan jasa lainnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA