Rabu 13 Apr 2022 11:45 WIB

Rusia Jual Minyak ke Negara Bersahabat dalam Kisaran Harga Berapa Pun

Rusia fokus untuk memastikan industri minyak terus berfungsi

Tangki minyak terlihat di Wesseling, dekat Cologne, Jerman, Rabu, 6 April 2022. Jerman memperingatkan untuk melarang semua impor energi dari Rusia karena perang di Ukraina, karena embargo akan memiliki konsekuensi yang tidak terduga bagi ekonomi terbesar Eropa itu.
Foto: AP/Martin Meissner
Tangki minyak terlihat di Wesseling, dekat Cologne, Jerman, Rabu, 6 April 2022. Jerman memperingatkan untuk melarang semua impor energi dari Rusia karena perang di Ukraina, karena embargo akan memiliki konsekuensi yang tidak terduga bagi ekonomi terbesar Eropa itu.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Menteri Energi Rusia Nikolai Shulginov mengatakan kepada surat kabar Izvestia, Moskow siap menjual minyak dan produk minyak ke "negara-negara bersahabat dalam kisaran harga berapa pun", kata kantor berita Interfax, Selasa (12/4/2022).

Shulginov mengatakan, harga minyak mentah dalam kisaran 80 dolar AS hingga 150 dolar AS per barel pada prinsipnya mungkin, tetapi mengatakan Moskow lebih fokus untuk memastikan industri minyak terus berfungsi, kata Interfax.

Sebelumnya, pada awal Maret lalu Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap sektor minyak dan gas (migas) Rusia. Presiden AS Joe Biden mengumumkan, negaranya melarang semua impor minyak, gas alam, dan energi dari Rusia. Biden menggambarkan langkah itu sebagai upaya 'menargetkan arteri utama ekonomi Rusia'.

Pengumuman itu berdampak pada terguncangnya harga minyak dunia yang sudah cukup tinggi bahkan sebelum jatuhnya sanksi dari AS. Sebelum rencana itu diumumkan, harga minyak mentah Brent menyentuh harga 139,12 dolar AS per barel, sedikit lagi mendekati harga tertingginya pada 2008. Sementara, West Texas Intermediate ditutup di harga 130,50 dolar AS.

Baca juga : Uni Eropa: Militer Rusia Bertanggung Jawab Atas Kelangkaan Pangan Global

Harga minyak telah melonjak lebih dari 30 persen sejak Rusia menginvasi Ukraina. Ini karena Rusia merupakan salah satu produsen minyak mentah dunia.

Berdasarkan data dari British Petroleum (BP) Statistical Review of World Energy 2021, Rusia memproduksi 10,667 juta barel per hari atau setara 12,6 persen produksi global. Jumlah ini tak jauh di bawah Amerika Serikat (16,476 juta barel per hari) dan di atas produksi Arab Saudi yang sebesar11,039 juta barel per hari.

Sejumlah negara sangat bergantung pada minyak dan gas (migas) Rusia. Negara Uni Eropa adalah importir migas Rusia. Sekitar 40 persen dari total konsumsi gas Eropa dipasok oleh Rusia. Jerman, misalnya, mengimpor 55 persen gas alam, 35 persen minyak bumi, dan 50 persen batu bara dari Rusia.

Anggota Uni Eropa akhirnya satu per satu mencari kerja sama dengan negara Timur Tengah terkait pasokan migas. Jerman segera menjajaki kerja sama dengan Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA). Inggris juga berupaya mengamankan minyak di UEA dan Arab Saudi, meskipun gagal.

Baca juga : Paus Fransiskus Kutuk Tindakan Keji Rusia

Di sisi lain, Rusia yang kesulitan menyalurkan migasnya melakukan serangan balasan. Presiden Vladimir Putin mengumumkan Rusia hanya akan terima pembayaran gas dengan rubel tidak dengan euro atau dolar AS.

Keputusan Rusia tersebut mengincar negara-negara Eropa "yang tidak bersahabat" karena sanksi-sanksi yang diberikan ke negaranya. Ini juga dilakukan untuk mencegah ekonomi Rusia terpuruk akibat sanksi Barat.

Di sisi lain, Rusia memberikan keringanan terhadap Turki dan China. Keduanya diizinkan melakukan pembayaran migas dengan mata uang lokal.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement