Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

40 Persen Balita Indonesia Alami Tumbuh Kembang tak Optimal

Rabu 13 Apr 2022 01:29 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Dwi Murdaningsih

Anak bermain (ilustrasi)

Anak bermain (ilustrasi)

Foto: PxHere
Nutrisi anak harus terjaga di 2 tahun pertama kehidupan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tumbuh kembang bayi hingga dua tahun pertama adalah fase penting menentukan kemampuan otak. Sayangnya 40 persen bawah lima tahun (balita) Indonesia mengalami tumbuh kembang yang tidak optimal.

"Terkait perkembangan para balita di Indonesia, sekitar 40 persen di antaranya mengalami tumbuh kembang yang tidak optimal," ujar Dokter Spesialis Anak Mesty Ariotedjo di konferensi virtual, Selasa (12/4/2022).
 
Ia menjelaskan, ukuran otak bayi yang baru lahir sangatlah kecil, hanya sekitar seperempat otak orang dewasa. Kemudian, setelah dia berusia 2 tahun, ukuran otaknya hampir sama dengan otak orang dewasa.
 
Mesty mengimbau orang tua harus memastikan nutrisi, stimulasi, kebersihan dijaga terutama di dua tahun pertama kehidupan buah hatinya. Sebab, dia melanjutkan, ini terkait otak dan serabut saraf untuk kecerdasan. Padahal, dia melanjutkan, serabut saraf setelah usia 2 tahun hingga dewasa tidak beda jauh. Ternyata, dia melanjutkan, semakin banyak serabut saraf maka  menandakan semakin cepat otak memproses sesuatu. 
 
"Sehingga, ini penting sekali memastikan 2 tahun pertama tumbuh kembang anak bisa optimal," katanya.
 
Dia menyebutkan banyak faktor-faktor yang memengaruhi optimalnya tumbuh kembang seorang anak. Yaitu faktor nutrisi, stimulasi, genetik, kemudian pengaruh kebersihan diri, dan lingkungan.
 
Terkait pentingnya nutrisi, dia melanjutkan, ternyata 60 persen nutrisi yang masuk ke tubuh adalah untuk otak. "Jadi, kalau nutrisi anak tidak cukup maka yang dikorbankan pertama adalah otaknya karena proporsinya tinggi sekali sampai 60 persen," kata dia.
 
Tak hanya itu, ia menjelaskan perkembangan anak terbagi menjadi beberapa hal yaitu motorik kasar, motorik halus, bahasa, sosial emosional, dan perkembangan kognitif. Oleh karena itu, ia mengajak para ibu juga mengajak buah hatinya untuk mendapatkan stimulasi dan mengajak main. Sebab, ia mengungkap studi menunjukkan anak yang mengalami kekerdilan (stunting) tapi jika mendapatkan stimulasi yang sangat optimal maka kecerdasannya sama seperti yang tidak stunting.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA