Sabtu 09 Apr 2022 09:10 WIB

Rusia Longgarkan Aturan Pembelian Valas

Perbankan Rusia akan diizinkan untuk menjual uang tunai mata uang asing ke individu.

Seorang pelanggan, kiri, dan seorang karyawan di kantor Sberbank, di Moskow, Rusia, Rabu, 2 Maret 2022. Bank sentral Rusia mengatakan bank-bank akan diizinkan untuk menjual uang tunai mata uang asing kepada individu mulai 18 April 2022.
Foto: AP/Pavel Golovkin
Seorang pelanggan, kiri, dan seorang karyawan di kantor Sberbank, di Moskow, Rusia, Rabu, 2 Maret 2022. Bank sentral Rusia mengatakan bank-bank akan diizinkan untuk menjual uang tunai mata uang asing kepada individu mulai 18 April 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia akan melonggarkan langkah-langkah pengendalian modal sementara yang bertujuan membatasi penurunan rubel dengan mengizinkan individu membeli mata uang asing tunai dan juga akan menghapus komisi untuk membeli valas melalui perantara, kata bank sentral Jumat (8/4/2022). Rubel telah rebound di Bursa Moskow dari rekor terendah pada Maret ke level yang terlihat sebelum 24 Februari, ketika Rusia memulai apa yang disebutnya operasi militer khusus di Ukraina, karena langkah-langkah pengendalian modal mencekik permintaan valas.

Rebound cepat dalam rubel menimbulkan kekhawatiran tentang dampak ekonomi dan keuangan karena analis telah memperingatkan bahwa rubel yang bergejolak dan kuat dapat menimbulkan ancaman bagi pendapatan Rusia dari penjualan komoditas di luar negeri untuk mata uang asing. 

Baca Juga

Bank sentral mengatakan bank-bank akan diizinkan untuk menjual uang tunai mata uang asing kepada individu mulai 18 April tetapi hanya uang kertas yang mereka terima tidak lebih awal dari pada 9 April. Bank sentral juga menghapus persyaratannya bagi bank untuk membatasi kesenjangan antara harga yang mereka tawarkan untuk membeli dan menjual valuta asing. 

Tapi bank sentral merekomendasikan bank menjual valas ke perusahaan yang berfokus pada impor dengan harga tidak lebih dari dua rubel di atas harga pasar.Bank sentral mengatakan individu akan diizinkan untuk menarik tidak hanya dolar tetapi juga euro dari rekening mereka mulai 11 April, tetapi mempertahankan jumlah maksimum yang dapat ditarik hingga 9 September setara dengan 10.000 dolar AS.

Pemulihan cepat rubel telah menimbulkan keraguan tentang daya tahan kenaikannnya. Siapa pun yang mencoba membeli mata uang asing secara daring di bank di Rusia atau secara ilegal di gerai valuta asing, atau yang membeli barang dan jasa secara daring dalam mata uang asing akan mendapati nilai sebenarnya jauh lebih buruk.

Bank sentral juga mengatakan akan menghapus komisi 12 persen untuk membeli mata uang asing melalui broker, membenarkan laporan sebelumnya oleh Tinkoff Bank dan Alfa Bank."Kami pikir keputusan ini menandai akhir dari reli yang berbalik arah dalam rubel," kata analis CentroCreditBank.

Pada awal Maret, ketika rubel jatuh tajam saat Amerika Serikat dan negara-negara Eropa memberlakukan sanksi terhadap Rusia karena mengirim pasukan ke Ukraina, bank sentral memperkenalkan komisi 30 persen untuk membeli valas untuk individu. Komisi kemudian diturunkan menjadi 12 persen.

Pembatasan pembelian valas bersama dengan perintah bagi perusahaan-perusahaan yang berfokus pada ekspor untuk mengonversi 80 persen dari pendapatan valas mereka membantu rubel kembali menguat. Pada Jumat (8/4/2022), rubel mencapai level terkuatnya terhadap euro sejak Juni 2020 dan melonjak ke level tertinggi 2022 terhadap dolar.

Langkah untuk membatalkan komisi bersama dengan keputusan bank sentral untuk memangkas suku bunga utamanya menjadi 17 persen akan menurunkan volatilitas rubel, kata analis VTB Capital.

Bank sentral Rusia secara tak terduga memangkas suku bunga utamanya dari 20 persen pada Jumat (8/4/2022) dan mengatakan pemotongan di masa depan dimungkinkan, karena langkah-langkah darurat telah mengandung risiko terhadap stabilitas keuangan, membawa simpanan kembali ke bank dan membantu membatasi ancaman inflasi.Pada Maret, harga konsumen di Rusia melonjak 7,61 persen, mencatatkan kenaikan bulanan terbesar sejak Januari 1999.

 

sumber : Antara/Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement