Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

China Ungkap Penyebab Krisis Ukraina

Jumat 08 Apr 2022 14:50 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha

Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi. Wang Yi mengatakan, ketidakseimbangan dalam sistem keamanan Eropa adalah salah satu alasan utama di balik krisis Ukraina.

Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi. Wang Yi mengatakan, ketidakseimbangan dalam sistem keamanan Eropa adalah salah satu alasan utama di balik krisis Ukraina.

Foto: AP Photo/Mark Schiefelbein
Ketidakseimbangan sistem keamanan Eropa salah satu alasan di balik krisis Ukraina.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mengatakan, ketidakseimbangan dalam sistem keamanan Eropa adalah salah satu alasan utama di balik krisis Ukraina. Hal ini diungkapkan Wang dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Prancis untuk Urusan Eropa Clement Beaune.

"Penyebab utama masalah Ukraina adalah ketidakseimbangan dalam sistem keamanan Eropa," kata Wang, dilansir TASS, Jumat (8/4/2022).

Baca Juga

Wang mengatakan, ada kebutuhan untuk mengikuti prinsip keamanan yang tidak dapat dibagi, agar dapat menciptakan kembali mekanisme keamanan yang seimbang dan efektif di Eropa. "Ini adalah satu-satunya cara untuk membangun perdamaian dan stabilitas yang langgeng di Eropa," kata Wang.

Wang mengatakan bahwa, semua pihak harus memfasilitasi pembicaraan damai antara Rusia dan Ukraina. Menurut Wang, komunitas internasional tidak dapat menyerukan gencatan senjata ketika pada saat yang bersamaan, mereka juga mengirimkan bantuan senjata dalam jumlah besar.

“Anda tidak dapat menyerukan gencatan senjata dan pada saat yang sama, melanjutkan pengiriman sejumlah besar senjata dan amunisi, meningkatkan permusuhan,” kata Wang.

Pada 24 Februari, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer khusus berdasarkan permintaan dari kepala republik Donbass. Putin menekankan bahwa, Moskow tidak memiliki rencana untuk menduduki wilayah Ukraina. Tujuan operasi militer itu adalah untuk demiliterisasi dan denazifikasi di Ukraina. 

Operasi ini telah memicu kemarahan internasional Uni Eropa, AS, Inggris, dan beberapa negara lain menerapkan sanksi keuangan yang keras terhadap Moskow. Menurut perkiraan PBB, setidaknya 1.611 warga sipil telah tewas di Ukraina dan 2.227 terluka. Namun angka sebenarnya dikhawatirkan jauh lebih tinggi. Sementara lebih dari 4,3 juta warga Ukraina telah melarikan diri ke negara lain.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika