Jumat 08 Apr 2022 00:42 WIB

Mencermati Tren Pasokan Bitcoin dan Ethereum yang Menyusut

Bitcoin mencapai rekor baru lantaran 19 juta keping berhasil ditambang dari 21 juta

Rep: Vicky Rachman (swa.co.id)/ Red: Vicky Rachman (swa.co.id)
Ilustrasi mata uang kripto bitcoin (BTC). (Foto: Pixabay)
Ilustrasi mata uang kripto bitcoin (BTC). (Foto: Pixabay)

Baru baru ini, Bitcoin mencapai rekor baru lantaran sebanyak 19 juta keping  telah berhasil ditambang dari total maksimum suplai Bitcoin yaitu sebesar 21 juta. Dengan begitu, total Bitcoin yang bisa ditambang hanya tersisa sekitar 2 juta keping saja. Tidak hanya Bitcoin, kabar menarik pun datang dari kripto peringkat dua yaitu Ethereum. Sebanyak 2 juta Ethereum sudah berhasil di-burn oleh para developer ETH. Burning 2 juta token ETH ini bertujuan untuk meningkatkan Ethereum Improvement Proposal atau EIP-1559.

CEO Indodax, Oscar Darmawan mengatakan, bahwa dua momen penting ini tentu akan banyak mengurangi pasokan dari kedua kripto dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar ini. Fenomena ini tentu merupakan suatu kabar baik karena berkurangnya pasokan dan tingginya permintaan akan meningkatkan harga suatu aset jika dilihat secara jangka panjang. Meskipun, sesekali akan mengalami penurunan harga jikalau market sedang berada di fase jenuh dan itu merupakan hal yang sudah biasa terjadi di pasar perdagangan kripto.

Jika pasokan suatu kripto khususnya Bitcoin dan Ethereum berkurang ini diyakini pelaku pasar kripto sebagai kabar yang positif. “Bitcoin dan Ethereum adalah dua aset kripto yang paling banyak ditransaksikan oleh para investor karena kedua kripto ini lebih populer dibanding kripto lainnya, menduduki peringkat teratas secara market cap di situs Coinmarketcap ataupun CoinGecko dan secara teknologi serta project pun lebih mature sehingga permintaan terhadap kedua kripto ini tinggi,” kata Oscar di Jakarta, Kamis (7/4/2022).

Bitcoin dan Ethereum pun sering dibeli oleh para institusi investor. Seperti perusahaan besutan Michael Saylor, Micro Strategy yang baru baru ini memborong Bitcoin senilai Rp 1,7 triliun lewat anak perusahaannya, MacroStrategy, menggunakan pinjaman yang didapat dari bank kripto asal San Diego, Silvergate dengan jaminan Bitcoin sebesar US$ 205 juta.

Pinjaman yang didapatkan dari menjaminkan BTC yang sudah dimiliki oleh MicroStrategy sebelumnya, ditujukan untuk menambah portofolio untuk disimpan sebagai investasi jangka panjang. Tidak hanya itu, high demand terhadap kripto khususnya Bitcoin dan Ethereum juga terjadi karena  literasi publik mengenai teknologi blockchain kian meningkat sehingga banyak negara di dunia yang melonggarkan kebijakan soal kripto sebagai suatu komoditas, alat pembayaran, bahkan devisa negara. Fungsi kripto pun semakin dibutuhkan karena ekosistemnya, seperti NFT, defi dan metaverse yang banyak menggunakan jaringan Ethereum.

Terlebih, adanya momen seperti halving day Bitcoin selama 4 tahun sekali, para penambang akan semakin sulit mendapatkan Bitcoin. Faktor Ini juga akan menyebabkan harga Bitcoin juga semakin naik. “Jika minat dan permintaan akan suatu barang semakin banyak, supply barang yang ada pun akan semakin berkurang. Sehingga nantinya harga barang pun akan naik. Hukum pasar ini juga berlaku di pasar perdagangan kripto,” kata Oscar.Berdasarkan data perdagangan Indodax per Kamis 7 April 2022 jam 11.00 WIB, harga Bitcoin berada di kisaran Rp 623 juta per 1 btc dan harga Ethereum berada di kisaran Rp 45 juta per keping ETH.

Swa.co.id

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan swa.co.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab swa.co.id.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement