Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Antara Syariat, Tarekat, dan Hakikat: Sebuah Permisalan

Kamis 07 Apr 2022 20:54 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi tarian sufi dalam tasawuf. Istilah syariat, tarekat, dan hakikat identik dengan dunia tasawuf

Ilustrasi tarian sufi dalam tasawuf. Istilah syariat, tarekat, dan hakikat identik dengan dunia tasawuf

Foto: Anadolu/Mustafa Çiftçi
Istilah syariat, tarekat, dan hakikat identik dengan dunia tasawuf

Oleh : Ustadz Yendri Junaidi Lc MA, dosen STIT Diniyyah Puteri Padang Panjang, alumni Al-Azhar Mesir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Tasawuf merupakan salah satu disiplin kajian ilmu dalam Islam yag menarik untuk dikaji. Keberadaannya pun menuai pro dan kontra di kalangan internal umat Islam.   

Syekh Abdul Halim Mahmud, mantan Grand Syekh Al-Azhar Mesir, pernah berkata, “Bagaimanapun Anda tidak menyukai tasawuf, Anda tidak bisa mengingkari bahwa banyak orang yang memiliki kecenderungan kepada sisi ruhany lebih daripada sisi zhahiri (kasat mata). Sebagaimana banyak orang yang lebih cenderung kepada sisi zhahiri daripada ruhany. Pada akhirnya, ini adalah masalah masyrab (kecenderungan pikiran dan perasaan).”   

Baca Juga

Ada tiga istilah yang selalu muncul dalam setiap kajian tasawuf yaitu syariat, tarekat, dan hakikat. Beragam cara dalam memahami ketiga istilah ini. 

Ada yang masih di jalurnya, ada yang sudah keluar jalur. Ada yang menganggap bahwa tiga istilah ini ibarat jenjang yang ketika sudah sampai di atas maka yang dibawah ditinggalkan.

Tak heran jika ada yang merasa sudah sampai ke level hakikat, dia merasa tak memerlukan syariat lagi. Ini sesuatu yang ditentang bahkan oleh tokoh-tokoh tasawuf sendiri.   

Ada sebuah kisah yang bisa menggambarkan bagaimana posisi antara syariat, tarekat, dan hakikat. Kisah ini bisa saja bersifat ramziy (simbolik). Karena itu jangan terlalu melihat detail-detailnya, apalagi yang bersifat zawaid, karena yang perlu menjadi perhatian adalah esensi dan pesan utama yang ingin disampaikannya.   

Seorang laki-laki datang menemui seorang alim. Dia berkata, “Syekh, aku mohon tolong ajarkan padaku apa itu syariat, tarekat, dan hakikat secara singkat dan cepat.”

Syekh yang alim ini menganggukkan kepalanya. Lalu ia mengajak laki-laki itu ke pasar. 

Setiba di pasar, keduanya melihat seorang penjual buah-buahan. Syekh berkata pada laki-laki tadi, “Orang itu di masa mudanya melakukan dosa besar. Ia pantas untuk ditampar. Pergilah ke dekatnya lalu tampar wajahnya!”. 

Laki-laki ini mulanya ragu. Bagaimana mungkin ia akan menampar orang yang tidak ia kenal dan tidak pernah ada masalah apapun dengannya. Tapi demi menuruti perintah Syekh, dia pun melangkah menuju penjual buah itu lalu menamparnya. 

Tidak menunggu lama, penjual buah tersebut membalas tamparan laki-laki itu dengan tamparan yang lebih keras. Tapi ketika tahu kalau Syekh yang menyuruh, penjual buah itu meminta maaf.

Keduanya kembali berjalan. Tiba-tiba mereka melihat seorang penjual daging. Syekh berkata pada laki-laki tadi, “Orang ini juga telah melakukan dosa di waktu mudanya. dia berhak untuk ditampar. Datanglah ke dekatnya dan tampar mukanya!”

Demi mentaati Syekh, laki-laki tersebut melangkah ke arah penjual daging tersebut lalu menamparnya. Namun penjual daging ini tidak membalas. Dia hanya menengadahkan wajahnya ke langit dan berkata, “Cukuplah Allah tempatku mengadu. Biarlah Dia yang membalasmu.”

Keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba mereka melihat seorang tukang jagal yang berbadan tegap dan besar.

Syekh memintanya untuk menampar tukang jagal itu. Dengan sedikit takut ia melangkah ke arah tukang jagal tersebut lalu menamparnya. 

Setelah ditampar, tukang jagal ini hanya tersenyum. Ia tidak membalas sedikitpun. Lalu dia berkata, “Sampaikan salamku pada gurumu.”   

Kemudian Syekh berkata pada laki-laki itu, “Yang pertama tadi, itulah syariah. Kezaliman dibalas dengan kezaliman. Dan memang untuk itulah dia diturunkan  mengatur hubungan antar manusia secara tegas dan adil.” 

Adapun yang kedua, itulah tarekat. Dia tidak mengambil haknya. Ia menyerahkan semuanya pada Allah SWT apa balasan yang pantas untukmu.

Sementara yang ketiga, itulah hakikat. Dia tidak merasa punya hak sama sekali. Lisan halnya berkata :

قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ اللهِ “Katakanlah semua dari sisi Allah.”

 الشريعة : هذا لك وهذا لي Syariat : “”Ini untukmu, ini untukku.

الطريقة : ما لي هو لك Tarekat: Untukku adalah untukmu.” 

الحقيقة : لا لي ولا لك Hakikat : Tidak ada untukku dan untukmu.

Semua adalah untuk dan milik Allah SWT.

والله تعالى أعلم وأحكم

 

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA