Saturday, 9 Jumadil Awwal 1444 / 03 December 2022

Komunitas Kristen Selamat dari Pembantaian Baghdad dan Koalisi Mongol-Tentara Salib

Rabu 06 Apr 2022 16:05 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi Baghdad sebelum dihancurkan Mongol. Komunitas Kristen Baghdad mendapat perlindungan dari Tentara Mongol

Ilustrasi Baghdad sebelum dihancurkan Mongol. Komunitas Kristen Baghdad mendapat perlindungan dari Tentara Mongol

Foto: Google.com
Komunitas Kristen Baghdad mendapat perlindungan dari Tentara Mongol

REPUBLIKA.CO.ID, — Memasuki abad ke-13 M, Kekhalifahan Dinasti Abbasiyah dipimpin seorang penguasa yang berwatak lemah, Abu Ahmad Abdullah al-Musta'shim Billah.

Menurut Hepi Andi Bastoni dalam Sejarah Para Khalifah, pemimpin Abbasiyah itu cenderung menggantungkan pemerintahan pada wazirnya, Muayiddin al-Alqami.

Baca Juga

Pada kemudian hari, perdana menteri yang berhaluan Syiah Rafidhah itu ternyata berkhianat sehingga menjerumuskan sang khalifah dan seluruh Baghdad ke dalam bahaya. 

Pada 1251, Mongke Khan menjadi pemimpin utama kekaisaran Mongol. Untuk melancarkan misimisi militernya, dia didukung dua orang saudaranya, yakni Kublai Khan dan Hulagu Khan.

Yang pertama itu berusaha menguasai China selatan, sedangkan yang terakhir mendapatkan perintah untuk menginvasi negeri-negeri Muslim di Asia Barat.

Sejak 1256, Hulagu Khan telah mempersiapkan ratusan ribu pasukan. Mereka kemudian berhasil menduduki sejumlah daerah di Irak sehingga kian mempersempit wilayah kekuasaan de facto Abbasiyah.

Di Baghdad, al-Musta'shim makin gentar. Sang khalifah lantas mulai mengirimkan pelbagai persembahan atau hadiah sebagai tanda menghormati kejayaan Mongol.

Akan tetapi, Hulagu Khan tidak puas dengan benda-benda berharga yang dikirimkan al-Musta'shim. Ia ingin khalifah sendiri datang kepadanya.

Tanpa menunggu jawaban, panglima Mongol itu langsung memimpin 150 ribu pasukan untuk menuju Baghdad. Itulah jumlah bala tentara terbesar yang pernah diterjunkan kekaisaran tersebut dalam sejarah.

Pasukan Hulagu Khan tidak hanya terdiri atas orang-orang Mongol. Di dalamnya terdapat pula para kesatria Kristen Nestorian dari Armenia. Semakin mendekati Kota Seribu Satu Malam, aliansi ini kian besar dengan kedatangan pasukan Salib dari Kerajaan Latin Antiokhia.  

Baghdad berubah menjadi kota mati seusai diserbu bala tentara Mongol. Asap membumbung tinggi. Bau amis darah menyeruak. Kawanan burung bangkai terbang berputar-putar di langit Kota Seribu Satu Malam. 

Pada pertengahan Februari 1258, Hulagu Khan mulai memimpin pasukannya untuk meninggalkan pusat Abbasiyah yang telah porakporanda itu. Dalam berarak, bala tentara Mongol menghindari aroma busuk yang menyeruak dari mayat ratusan ribu penduduk Baghdad. 

Sekira lima hari kemudian atau pada 10 Februari 1258, ibu kota Abbasiyah ini akhirnya jatuh ke tangan Mongol. Sang khan menunggu hingga tiga hari lamanya untuk memasuki kota tersebut.

Masa singkat itu digunakannya untuk mengamati kondisi Baghdad seusai kekalahan sang khalifah. Menjelang habis hari ketiga, Hulagu Khan menyuruh seluruh komunitas Kristen untuk mencari tempat perlindungan di pinggiran kota. 

Tentaranya juga diperintahkan untuk tidak mengusik mereka. Sikap ini barangkali terkait dengan kedekatan khan tersebut pada kelompok Salibis. Diketahui, ibunda dan istrinya adalah pemeluk Kristen Nestorian.

Setelah itu, barulah Hulagu Khan mempersilakan pasukannya untuk menghabisi seluruh warga Baghdad. Nyaris tidak ada Muslimin setempat yang lolos dari pembantaian ini. Kaum wanita dilecehkan. Anak-anak dibariskan untuk kemudian dibunuh secara brutal. Jumlah korban keberingasan mereka tidak diketahui dengan pasti. 

Tidak ada rasa belas kasihan sedikit pun dari para agresor itu. Mereka justru menganggap, pembantaian adalah sebuah pencapaian. Karena itu, Hulagu Khan menggiring ratusan ribu pasukan Mongol untuk terus bergerak ke arah barat. Tujuannya adalah merebut negeri-negeri Islam yang tersisa di sekujur Syam, pesisir Mediterania timur, bahkan Mesir. 

Sekira dua tahun sejak koyaknya Baghdad, Mongol dapat menjajah seluruh daerah Dinasti Ayyubiyah di Asia Barat, termasuk Damaskus dan Halab (Aleppo). Setelah itu, bangsa dari Asia Timur itu merebut kota-kota penting di Palestina, seperti Gaza dan Nablus.       

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA