Saturday, 6 Rajab 1444 / 28 January 2023

Zelenskyy Dorong PBB Sidang Kejahatan Perang Rusia

Rabu 06 Apr 2022 06:25 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan militer Rusia dibawa ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan kejahatan perang.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan militer Rusia dibawa ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan kejahatan perang.

Foto: Ukrainian Presidential Press Office via AP
Zelenskyy tuduh Rusia melakukan kekejaman perang terburuk sejak Perang Dunia II.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK --  Di Dewan Keamanan PBB, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan militer Rusia dibawa ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan kejahatan perang. Ia menuduh pasukan Kremlin melakukan kekejaman perang terburuk sejak Perang Dunia II.

Peserta konferensi sepakat untuk menerima 12 ribu pengungsi Ukraina yang saat ini berada di Moldova. Mereka juga setuju memberikan bantuan senilai 71 juta euro dan hampir 700 juta euro dalam bentuk pinjaman ke negara itu dan membantu memerangi korupsi serta ketergantungan energi pada Rusia.

Baca Juga

Pernyataan ini Zelenskyy sampaikan saat terus muncul bukti pembantaian rakyat sipil di kota-kota pinggir Kiev. Sebelum pasukan Rusia mundur dari ibukota.

Foto-foto jenazah yang tewas terbunuh terutama di Kota Bucha memicu amarah dunia. Bukti-bukti itu mendorong Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa menambah saksi yang lebih keras pada Rusia.

Zelenskyy yang pertama kali tampil di lembaga tertinggi PBB menekankan banyak tempat di Ukraina yang mengalami kengerian seperti di Bucha. Ia mendorong didirikannya pengadilan yang serupa pengadilan Nuremberg untuk menggelar sidang kejahatan perang pertama sejak Perang Dunia II.

Sementara itu Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss mendorong lebih banyak sanksi pada Rusia. Menurutnya sanksi saat ini sudah memiliki "dampak yang melumpuhkan".

Di Warsawa, Polandia, Liz Truss mengatakan sanksi-sanksi telah membekukan 350 miliar dolar AS "keuangan perang Putin". Ia menambahkan sehingga lebih dari 60 persen dari cadangan mata uang Rusia senilai 604 miliar dolar AS tidak dapat diakses.

"Sanksi-sanksi terkoordinasi kami mendorong ekonomi Rusia kembali ke era Uni Soviet," katanya dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Polandia Zbigniew Rau.

Baca juga : Obama dan Biden Reuni Kembali di Gedung Putih

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA