Senin 04 Apr 2022 14:37 WIB

Harga Minyak Terus Merosot Akibat Pelepasan Cadangan

Harga minyak Brent dan WTI turun ketika pasar dibuka pada Senin (4/4/2022).

Rep: ANTARA/ Red: Fuji Pratiwi
Ilustrasi Kilang Minyak. Harga minyak memperpanjang kerugiannya pada Senin (4/4/2022), karena investor mengamati pelepasan pasokan dari cadangan strategis dari negara-negara konsumen, sementara gencatan senjata di Yaman dapat meredakan kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah.
Foto: Reuters/Shamil Zhumatov
Ilustrasi Kilang Minyak. Harga minyak memperpanjang kerugiannya pada Senin (4/4/2022), karena investor mengamati pelepasan pasokan dari cadangan strategis dari negara-negara konsumen, sementara gencatan senjata di Yaman dapat meredakan kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Harga minyak memperpanjang kerugiannya pada Senin (4/4/2022), karena investor mengamati pelepasan pasokan dari cadangan strategis dari negara-negara konsumen, sementara gencatan senjata di Yaman dapat meredakan kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah.

Minyak mentah berjangka Brent turun 79 sen atau 0,8 persen, menjadi diperdagangkan di 103,60 dolar AS per barel pada pukul 00.37 GMT, sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di 98,45 dolar AS per barel, turun 82 sen atau 0,8 persen. Kedua kontrak tergelincir 1 dolar AS ketika pasar dibuka pada Senin (4/4/2022).

Baca Juga

PBB telah menengahi gencatan senjata dua bulan antara koalisi yang dipimpin Saudi dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran untuk pertama kalinya dalam konflik tujuh tahun. Fasilitas minyak Saudi telah diserang oleh Houthi selama konflik, menambah gangguan pasokan dari Rusia.

"Ini adalah ancaman terhadap pasokan, dan gencatan senjata akan mengurangi ancaman itu terhadap pasokan," kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group.

Produksi kondensat minyak dan gas di eksportir No. 2 dunia itu turun menjadi 11,01 juta barel per hari (bph) pada Maret, dari rata-rata produksi 11,08 juta barel per hari pada Februari, kata sumber industri. Penyulingan dan ekspor minyak Rusia telah terkena sanksi Barat dan keengganan pembeli menyusul invasi Rusia ke Ukraina. Perkiraan kehilangan pasokan minyak Rusia berkisar antara 1 juta hingga 3 juta barel per hari.

Harga minyak merosot sekitar 13 persen pekan lalu setelah Presiden AS Joe Biden mengumumkan bahwa hingga 1 juta barel per hari minyak akan dijual dari Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS selama enam bulan mulai Mei. Biden mengatakan rilis tersebut, yang ketiga dalam enam bulan terakhir, akan berfungsi sebagai jembatan sampai produsen dalam negeri dapat meningkatkan produksi dan mengembalikan keseimbangan pasokan dengan permintaan.

Departemen Energi AS secara resmi menguraikan penjualan minyak dari cadangan darurat, sementara anggota Badan Energi Internasional juga setuju untuk melepaskan lebih banyak minyak pada Jumat (1/4/2022). "Upaya bersama AS dan sekutunya untuk sementara dapat menyeimbangkan kekurangan pasokan pada 2022, tetapi itu mungkin bukan solusi jangka panjang," kata Tina Teng, seorang analis pasar di CMC Markets APAC & Canada dalam sebuah catatan.

"Juga, produsen minyak AS mungkin enggan meningkatkan produksi untuk menjaga keuntungan tetap tinggi."

Meskipun ada seruan dari Biden agar perusahaan-perusahaan energi AS meningkatkan produksi, pertumbuhan jumlah rig tetap lambat karena pengebor terus mengembalikan uang tunai kepada pemegang saham dari harga minyak mentah yang tinggi daripada meningkatkan produksi. Kekhawatiran permintaan di China, importir minyak utama dunia, bertahan karena kota terpadat Shanghai telah memperpanjang penguncian Covid-19.

Kementerian transportasi China memperkirakan penurunan 20 persen dalam lalu lintas jalan dan penurunan 55 persen dalam penerbangan selama liburan Qingming tiga hari karena meningkatnya kasus Covid-19 di negara itu.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement