Senin 04 Apr 2022 06:34 WIB

Ciliwung Keruh, 32 Ribu Pelanggan Air di Bogor Terdampak

Perumda Tirta Pakuan sebut Sungai Ciliwung keruh berdampak terhadap 32 ribu pelanggan

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Bilal Ramadhan
Warga mengamati aliran sungai Ciliwung yang keruh di Bendungan Katulampa ,Kota Bogor, Jawa Barat. Perumda Tirta Pakuan sebut Sungai Ciliwung keruh berdampak terhadap 32 ribu pelanggan
Foto: Yulius Satria Wijaya/ANTARA
Warga mengamati aliran sungai Ciliwung yang keruh di Bendungan Katulampa ,Kota Bogor, Jawa Barat. Perumda Tirta Pakuan sebut Sungai Ciliwung keruh berdampak terhadap 32 ribu pelanggan

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor menyebut kondisi Sungai Ciliwung saat ini mengalami tingkat kekeruhan dan lumpur yang cukup tinggi. Akibatnya, pasokan air bersih di wilayah timur dan utara Kota Bogor pun terganggu.

Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan, Rino Indira Gusniawan, mengatakan tingkat kekeruhan air yang sampai ke pengolahan air bersih bisa mencapai 5.000 hingga 6.000 NTU. Padahal, skala normal kekeruhan air berada di angka 100 NTU.

Baca Juga

Menurutnya, debit sungai yang membawa lumpur itu sangat mempengaruhi sistem pengolahan air bersih di IPA Katulampa. Untuk mengejar kualitas yang tetap baik sampai ke pelanggan, Perumda Tirta Pakuan harus menurunkan sedikit debit di pengolahan.

“Kalau normal itu air yang dikonsumsi 1 NTU jadi bening. Kalau yang kita olah itu paling 100 NTU. 5.000 sampai 6.000 NTU itu pekat banget sudah seperti kopi. Coklat banget. Luar biasa pokonya. Parah,” kata Rino dalam keterangannya, Ahad (3/4).

Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi menyebabkan gangguan pada sistem pengolahan air. Gangguan pengaliran menyasar wilayah zona VII, yang meliputi sebagian wilayah Bogor Timur dan Utara, utamanya di beberapa perumahan.

Kekeruhan itu, dikatakan Rino, terjadi sejak dua tahun terakhir. Hanya saja, tingkat kekeruhan di Sungai Ciliwung cukup fluktuatif. Levelnya dapat turun di angka 3.000 NTU.

Karena kondisi tersebut, Perumda Tirta Pakuan bereksperimen agar dapat mengatasi kondisi air Sungai Ciliwung yang keruh dengan membubuhkan zat kimia. Sebab, air yang didistribusikan ke pelanggan seharusnya sudah layak konsumsi.

Menurut Rino, ada tiga alternatif dalam menangani kondisi air keruh. Pertama dengan pembubuhan zat kimia jenis polimer. Juga dengan memberikan kandungan alumunium agar mengurai air yang keruh.

Kedua, sambung dia, memisahkan 32 ribu pelanggan dari hulu sebanyak 2 ribu hingga 3 ribu pelanggan agar mendapatkan pasokan distribusi air dari zona lain.

“Dari pompa intake Pakuan untuk mendorong, jadi total warga yang terlayani di zona 7 berkurang karena air yang di produksi nya berkurang,” ucapnya.

Ketiga, dengan konsep sama namun dengan skala yang lebih besar, dengan mengoptimalkan atau mengoperasikan WTP Unitex. “Ini mudah-mudahan Perjanjian Kerja Sama (PKS)-nya selesai, kita akan lakukan operasionalnya karena uji cobanya kemarin sudah,” kata Rino.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement