Wednesday, 24 Syawwal 1443 / 25 May 2022

Indonesia Pertahankan Posisi Keempat dalam SGIE 2022

Kamis 31 Mar 2022 19:16 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Fuji Pratiwi

CEO DinarStandard Rafi-uddin Shikoh saat diwawancarai Republika, di Jakarta, Kamis (4/10). Indonesia mempertahankan posisinya pada The Global Islamic Economy Indicator dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2022 yang diluncurkan DinarStandard di Dubai, Uni Emirate Arab, Kamis (31/3/2022).

CEO DinarStandard Rafi-uddin Shikoh saat diwawancarai Republika, di Jakarta, Kamis (4/10). Indonesia mempertahankan posisinya pada The Global Islamic Economy Indicator dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2022 yang diluncurkan DinarStandard di Dubai, Uni Emirate Arab, Kamis (31/3/2022).

Foto: Republika/Prayogi
Indonesia mengalami kenaikan signifikan di sektor makanan halal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia mempertahankan posisinya pada The Global Islamic Economy Indicator dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2022 yang diluncurkan DinarStandard di Dubai, Uni Emirate Arab, Kamis (31/3/2022). Indonesia menduduki peringkat keempat setelah Malaysia, Arab Saudi, dan Uni Emirate Arab.

CEO DinarStandard Rafi-uddin Shikoh menyampaikan, meski tetap berada di peringkat yang sama seperti tahun lalu, Indonesia mengalami kenaikan signifikan di sektor makanan halal. Indonesia naik dua peringkat ke posisi kedua dalam sektor halal food.

Baca Juga

"Indonesia mempertahankan posisi keempat di GIEI secara keseluruhan peringkat, Indonesia terus memperlihatkan kinerja yang baik dalam meningkatkan peringkat Halal Food," kata Rafi-uddin dalam peluncuran SGIE 2022 yang juga dilakukan secara daring.

Ekspor makanan halal ke negara-negara OKI meningkat 16 persen pada 2021. Nilainya akan terus meningkat seiring dengan inisiatif dari pemerintah dan stakeholder dalam meluncurkan sistem data kodifikasi produk halal untuk mencatat nilai perdagangan global produk halal Indonesia.

Indonesia juga mengambil berbagai langkah untuk meningkatkan sertifikasi halal, salah satunya melalui digitalisasi. Sektor keuangan syariah di Indonesia juga punya prospek menjanjikan dengan merger tiga bank anak usaha bank BUMN menjadi Bank Syariah Indonesia.

"Perkembangan di sektor keuangan digital Islam juga terus berlangsung dengan Indonesia adalah rumah bagi fintech syariah," kata Rafi-uddin.

Ia menyebut salah satu fintech P2P Syariah, Alami, mengambil bagian dalam beberapa putaran pendanaan ekuitas sepanjang tahun sambil dalam proses meluncurkan bank digital syariahnya. Start up syariah juga terus didorong untuk meningkatkan perannya dalam pemulihan ekonomi nasional.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA