UEA Minta Israel-Palestina 'Tenang' Selama Ramadhan

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil

 Senin 28 Mar 2022 12:30 WIB

Anggota Polisi Israel mendorong mundur warga Palestina di dekat Gerbang Damaskus ke Kota Tua Yerusalem, Sabtu (24/4). Bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa Palestina terjadi pada malah hari di bulan suci Ramadhan. (AP Photo/Maya Alleruzzo) Foto: AP/Maya Alleruzzo Anggota Polisi Israel mendorong mundur warga Palestina di dekat Gerbang Damaskus ke Kota Tua Yerusalem, Sabtu (24/4). Bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa Palestina terjadi pada malah hari di bulan suci Ramadhan. (AP Photo/Maya Alleruzzo)

Terjadi bentrokan saat Ramadhan tahun lalu antara Israel dan Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID,NEW YORK -- Duta Besar UEA untuk PBB, Lana Nusseibeh, mengeluarkan seruan agar Israel dan Palestina 'tenang' selama Ramadhan. Hal ini disampaikan berkaca pada bentrokan mematikan yang menodai bulan suci tahun lalu.

Nusseibeh menyerukan perdamaian antara kedua kelompok, menyusul serentetan serangan penikaman yang terjadi di Yerusalem Timur dan Tepi Barat yang diduduki dalam beberapa pekan terakhir. Masyarakat Palestina sering kali mendapat respon mematikan dari pasukan Israel.

Baca Juga

Pada bulan Ramadhan tahun lalu, bentrokan meletus di Yerusalem Timur dan Tepi Barat sebagian, memicu perang 11 hari di Gaza antara Israel dan militan Palestina. Sementara tahun ini, perayaan bulan suci tumpang tindih dengan hari raya Paskah Yahudi.

“Kami berharap periode yang akan datang akan menjadi masa yang tenang, berbeda dengan peristiwa traumatis yang terjadi di wilayah pendudukan Palestina tahun lalu,” kata Nusseibeh kepada Dewan Keamanan PBB, dikutip di The National News, Senin (28/3).

Bulan suci ini dinilai merupakan kesempatan untuk mempromosikan nilai-nilai koeksistensi damai antara agama-agama yang berbeda.

Warga Palestina disebut harus memiliki “kebebasan” untuk menjalankan praktik agama mereka di Masjid Al Aqsa Yerusalem. Masjid ini merupakan titik nyala kekerasan tahun lalu, di mana ratusan warga Palestina dan sejumlah petugas polisi terluka.

Pernyataan yang disampaikan Nusseibeh menggemakan komentar dari anggota dewan lainnya, termasuk utusan AS Linda Thomas-Greenfield, yang memperingatkan kepekaan agama yang meningkat.

Utusan perdamaian PBB, Tor Wennesland, memperingatkan terhadap "provokasi" dari para pemimpin kelompok saingan.

Para diplomat ini bertemu di New York, beberapa jam setelah pasukan Israel membunuh dua warga Palestina dalam penembakan terpisah di Tepi Barat yang diduduki. Korban bernama Nader Haitham Rayan yang berusia 16 tahun di kota utara Nablus dan Alaa Shaham di Qlandia, di luar Yerusalem.

Sebelumnya, seorang penyerang Arab-Israel menewaskan sedikitnya empat orang di kota selatan Beersheba, sebelum dia ditembak mati oleh seorang pejalan kaki. Polisi setempat menyebut ini adalah salah satu serangan paling mematikan di Israel dalam beberapa tahun terakhir.

Wakil asisten menteri luar negeri AS, Hady amr, berada di kawasan itu untuk membantu mengurangi ketegangan yang membara. Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid, bertemu dengan Raja Yordania Abdullah II pekan lalu, dalam upaya untuk menjaga ketenangan selama hari raya keagamaan.

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett telah mengesampingkan pembicaraan damai formal dengan Palestina selama masa jabatannya, tetapi dia mencari peluang ekonomi yang lebih baik di Tepi Barat. Para pejabat Israel mengatakan mereka berharap untuk meredakan ketegangan sebelum bulan suci.

Palestina berupaya menjadi negara merdeka di Tepi Barat, Yerusalem Timur dan Gaza, semua wilayah yang direbut oleh Israel pada tahun 1967. Israel terus membangun pemukiman di tanah Palestina, yang menurut PBB dan sebagian besar negara adalah hal yang ilegal.  

Sumber:

https://www.thenationalnews.com/world/us-news/2022/03/22/uae-calls-for-calm-in-israel-and-palestine-as-ramadan-tension-flares/

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...

Berita Lainnya

Play Podcast X