Jumat 25 Mar 2022 07:57 WIB

Prof Mehmet: Negara Muslim Gagal Bangun Kualitas Manusia

Banyak negara Muslim ber-GDP tinggi, tapi IPM-nya rendah.

Mehmet Asutay, Profesor Kajian Timur Tengah dan Ekonomi dan Keuangan Islam dari Durham University.
Foto: Dok UIII
Mehmet Asutay, Profesor Kajian Timur Tengah dan Ekonomi dan Keuangan Islam dari Durham University.

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK —Negara-negara berkembang meniru Barat untuk maju. Salah satu yang diadopsi para pengelola pemerintahan mereka adalah melakukan akumulasi modal agar bisa mengejar ketertinggalan dan memacu pembangunan. 

“Kemajuan Barat diilhami oleh spirit Etika Protestan yang mendorong terjadinya akumulasi modal. Menurut Max Weber, inilah yang akan menjadi pendorong perkembangan industri yang pada akhirnya menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi,” papar Mehmet Asutay, Profesor Kajian Timur Tengah dan Ekonomi dan Keuangan Islam dari Durham University dalam kuliah perdana di hadapan mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII),  pekan lalu via koneksi daring. 

Memasuki semester kedua, UIII memberlakukan proses pengajaran tatap muka (offline). Namun untuk kasus di mana pengajar dari luar negeri, format hybrid diberlakukan di  mana mahasiswa tetap hadir di kelas. Prof Mehmet Asutay yang juga menjabat sebagai Direktur Durham Centre for Islamic Economics and Finance, dikenal sebagai salah satu ikon ilmuwan bidang keuangan Islam global.

Selain Prof Mehmet, Prof Seif el-Din Ibrahim Tag El-Din juga akan turut berkontribusi dalam pengajaran di semester kedua, Magister Ilmu Ekonomi FEB UIII. Prof Seif adalah penerima penghargaan IDB Prize, 2015, dan sangat terkenal dalam kapasitas sebagai pioner yang meletakkan dasar-dasar teori ekonomi Islam modern.

Lebih lanjut Prof Mehmet menyampaikan, akumulasi modal mungkin mempercepat pembangunan fisik, namun tidak selalu berhubungan dengan pembangunan manusianya. Banyak negara Muslim yang memiliki GDP per kapita yang tinggi, namun indeks pembangunan manusian (IPM)-ya tidak sebanding dengan keberlimpahan kekayaan yang mereka peroleh. Sebagai misal, negara-negara penghasil minyak rata-rata memiliki pendapatan per kapita yang tinggi semisal Qatar (50.124 dolar per tahun), Uni Emirat Arab (36.284), dan Brunai (27.443). Namun bila ditengok keberhasilan dari pembangunan manusianya belum bisa menggeser dominasi negara-negara di Skandinavia seperti Norwegia (0,954 atau menduduki peringkat pertama) dan Swiss (0,946).

Sementara Indeks Pembangunan Manusia di Qatar (0,848), Brunai (0,845), dan UEA (0,866). Pencapaian Turki dalam hal ini lebih bagus meskipun pendapatan per kapitanya jauh di bawah ke tiga negara tersebut (GDP per capita Turki 8.536 dolar atau kurang lebih dua kali GDP per capita Indonesia) tapi indeks pembangunan manusianya hampir setara dengan ketiga negara tersebut (0,806, Indonesia baru mencapai 0,707). 

Yang mirip juga terjadi di Malaysia. Negeri jiran ini, menurut Prof Mehmet, telah berhasil menjadikan keuangan Islam memfasilitasi masuknya akumulasi modal. Kelas menengah pun tumbuh di Malaysia. Di kota-kota besar seperti Kuala Lumpur, mereka mengisi dan banyak dijumpai di posisi-posisi penting.

Namun itu tidak serta merta berhasil mengangkat Bumiputera untuk menjadi elemen dominan dalam perekonomian Malaysia. “Dengan kata lain, meskipun akumulasi modal tercapai, pembangunan manusianya secara umum belum tercapai sepenuhnya,” ujar Prof Mehmet seperti dikutip dalam rilis yang diterima Republika.co.id. 

Barakah

Dalam kesempatan kuliah sebelumnya, Kaprodi Magister Ilmu Ekonomi FEB UIII, M  Luthfi Hamidi  PhD  menyampaikan perlunya pendekatan dan pengembangan Ilmu Ekonomi Islam karena banyak yang luput dalam pendekatan ekonomi konvensional. Variable yang dijadikan asumsi dalam Ilmu Ekonomi Islam tidak selalu yang bersifat tangible (terlihat). Misalnya, unsur barakah.

photo
Magister Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) menggelar kuliah perdana secara hybrid dengan mengundang nara sumber Prof Mehmet Asutay, Profesor Kajian Timur Tengah dan Ekonomi dan Keuangan Islam dari Durham University.  (Foto: Dok UIII)

Dalam ilmu ekonomi konvensional, komoditas ekonomi lebih disukai karena memberikan kegunaaan (utility) yang lebih besar. Ukuran mudahnya adalah memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi.  Contohnya, martabak dengan tiga telur cenderung lebih disukai daripada dengan dua telur karena dianggap memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi (lebih gurih, lebih renyah).

“Namun dalam perspektif Islam, kepuasan itu tidak pernah dicapai di dunia,” kata Luthfi. Ia menyebutkan, seorang yang memiliki satu gunung emas, masih teringin mendapatkan gunung yang kedua dan seterusnya. “Jadi aspek yang lebih penting bukan berapa banyak telurnya, tapi berapa banyak mulut yang merasakan martabaknya,” tuturnya.

Dalam sebuah Hadits Rasulullah SAW pernah menyampaikan, bila kamu masak sup, perbanyaklah kuahnya agar bisa kamu bagikan ke tetangga. “Ini mengindikasikan sesuatu yang lebih berkah lebih disukai. Karena dalam keberkahan, meskipun sedikit, manfaatnya bisa dirasakan banyak orang,” ujarnya. 

Doktor ilmu ekonomi 

Luthfi mengungkapakn, FEB UIII saat ini baru memiliki Prodi Magister Ilmu Ekonomi. Saat ini jumlah mahasiwanya mencapai 19 orang, di mana delapan orang adalah mahasiswa dari luar negeri. “Mereka seluruhnya mendapatkan beasiswa dan tinggal di asrama kampus yang terletak di Depok, Jawa Barat,” katanya. 

September 2022, FEB UIII akan membuka Program Doktor Ilmu Ekonomi. Sama seperti untuk magister, program ini nanti, selain mahasiswa domestik, juga akan direkrut dan dipilih mahasiswa dari berbagai negara. “Mereka akan mendapatkan fasilitas beasiswa, asrama, dan kemudian melakukan riset di kampus UIII,” ungkapnya.

 

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement