Kamis 24 Mar 2022 19:31 WIB

Butuh Capex 75 Miliar Dolar AS, PLN Terapkan Dua Strategi

Investasi ini untuk membangun pembangkit EBT dan menjalankan program transisi energi.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Fuji Pratiwi
PLN dan Kementerian ESDM menjadi tuan rumah dalam Energy Transition Working Grup (ETWG) G.20, Yogyakarta 24 Maret 2022. Dalam kesempatan itu, PLN mengungkapkan, PLN membutuhkan modal belanja 75 miliar dolar AS untuk membiayai proyek transisi energi.
Foto: dok. PLN
PLN dan Kementerian ESDM menjadi tuan rumah dalam Energy Transition Working Grup (ETWG) G.20, Yogyakarta 24 Maret 2022. Dalam kesempatan itu, PLN mengungkapkan, PLN membutuhkan modal belanja 75 miliar dolar AS untuk membiayai proyek transisi energi.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) membutuhkan modal belanja 75 miliar dolar AS untuk membiayai proyek transisi energi. Untuk bisa mendapatkan dana tersebut, PLN membuka peluang kerja sama.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan, 75 miliar dolar AS tersebut merupakan total investasi yang diperlukan untuk membangun pembangkit EBT dan menjalankan program transisi energi seperti mempensiunkan PLTU dan mengkonversi PLTD.

Baca Juga

"PLN membuka peluang kerja sama untuk investasi ini. Kerja sama tak hanya capital funding saja tetapi juga teknologi dan inovasi," ujar Darmawan di Yogyakarta, Kamis (24/3).

Darmawan menjelaskan dari sisi teknologi saat ini perkembangan pembangkit EBT akan lebih murah. Ia mengatakan sejak 2015 hingga 2020 ongkos investasi PLTS turun hingga 80 persen. Artinya, kata Darmawan kedepan harga EBT bisa lebih murah lagi.

"Jadi, capital expenditure (capex) besar ini bisa relatif. Ke depan dengan berkembangnya teknologi dan inovasi bisa lebih murah," ujar Darmo.

Dalam RUPTL Hijau ini, porsi pembangkit listrik berbasis EBT pada 2030 ditargetkan mencapai 29 gigawatt (GW). Untuk mencapai target tersebut, PLN bakal menambah pembangkit EBT baru hingga 20,9 GW. Khususnya, PLN juga akan mendukung industri di Kawasan Industri Hijau melalui pembangkit EBT.

"Pada 2021, kami sudah membangun pembangkit EBT sebesar 623 megawatt (MW) yang mayoritas adalah pembangkit listrik tenaga air (PLTA)," ujar Darmawan.

Menurut Darmawan, tahun ini PLN akan menambah kapasitas terpasang pembangkit EBT sebesar 228 MW. Ia merinci, akan ada PLTP yang beroperasi sebesar 45 MW. Sedangkan PLTA dan PLTM akan bertambah 178 MW dan pembangkit listrik tenaga bioenergi sebesar 5 MW.

Tak hanya menggencarkan pembangunan pembangkit EBT, PLN juga secara paralel menjalankan skenario mempensiunkan lebih awal (early retirement) pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) secara bertahap hingga 2056 mendatang.

Tahap pertama, hingga 2030, PLN akan mengurangi 5,5 GW PLTU. Pada tahap kedua, PLN akan mempensiunkan PLTU subcritical sebesar 10 GW pada 2040. Sedangkan pada 2050, PLN mengakhiri PLTU subcritical sebesar 18 GW dan supercritical 7 GW.

"Tahap terakhir pada tahun 2055, PLTU ultra-supercritical 10 GW dipensiunkan," ujar Darmawan.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement