Selasa 22 Mar 2022 21:18 WIB

OKI Menyerukan 'Aksi Islam Bersama' terhadap Kebijakan Apartheid Israel

OKI Menyerukan 'Aksi Islam Bersama' terhadap Kebijakan Apartheid Israel

Rep: Mabruroh/ Red: Muhammad Hafil
Petugas polisi perbatasan Israel menahan seorang pemuda Palestina di sebelah Gerbang Damaskus di luar Kota Tua Yerusalem, Senin, 28 Februari 2022.
Foto: AP/Mahmoud Illean
Petugas polisi perbatasan Israel menahan seorang pemuda Palestina di sebelah Gerbang Damaskus di luar Kota Tua Yerusalem, Senin, 28 Februari 2022.

IHRAM.CO.ID,NEW DELHI — Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Islam (OKI) Hissein Brahim Taha pada Selasa (22/3) mengecam penindasan Israel yang terus berlanjut terhadap rakyat Palestina dan serangannya terhadap situs-situs Islam di Yerusalem.

Menurutnya, masalah Palestina adalah inti dari keberadaan OKI. Organisasi yang beranggotakan 57 orang itu menuntut diakhirinya kebijakan Israel tentang permukiman ilegal Yahudi, "Yudaisasi" Yerusalem dan serangan berulang-ulang terhadap situs-situs Muslim kota bersejarah itu, termasuk Masjid Al Aqsa.

Baca Juga

Israel juga telah melakukan pembunuhan terhadap warga Palestina, penyitaan tanah mereka, penangkapan sewenang-wenang, apartheid dan pembersihan etnis.

"Praktek ilegal ini merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum, perjanjian, dan resolusi internasional yang relevan," kata sekretaris jenderal OKI dalam pidatonya di sesi ke-48 Dewan Menteri Luar Negeri OKI di Islamabad.

Dia meminta anggota OKI untuk memperkuat semangat solidaritas dan aksi bersama Islam, mengingat "kejahatan Israel dan serangan terhadap rakyat Palestina."

Selain masalah pendudukan Palestina, OKI dalam pidatonya juga berbicara tentang sejumlah masalah internasional, termasuk krisis Rohingya, Jammu dan Kashmir, dan perang di Yaman dan Ukraina.

“Masalah Jammu dan Kashmir juga merupakan alasan yang adil bagi OKI dan mengkritik pencabutan status otonomi terbatas wilayah mayoritas Muslim yang telah berlangsung puluhan tahun oleh India pada Agustus 2019,” kata Taha dilansir dari Bernama, Selasa (22/3).

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan dan Menteri Luar Negeri Shah Mahmood Qureshi dalam pidato mereka selama sesi pembukaan, juga mengangkat keras masalah Jammu dan Kashmir.

Sumber:

https://www.bernama.com/en/world/news.php?id=2064638

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement