Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

Dampak Pakai Handphone Hingga Laptop Terhadap Mata Ternyata Separah Ini

Senin 21 Mar 2022 23:01 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Nora Azizah

Durasi hingga posisi saat menatap handphone dan laptop mempengaruhi dampak buruknya.

Durasi hingga posisi saat menatap handphone dan laptop mempengaruhi dampak buruknya.

Foto: Pixabay
Durasi hingga posisi saat menatap handphone dan laptop mempengaruhi dampak buruknya.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Pengguna internet meningkat selama pandemi. Hal ini terkait penggunaan elektronik berlayar seperti laptop, komputer, dan ponsel. Jika dipakai berlebihan dapat menimbulkan computer vision syndrome (CVS) atau digital eye strain (DES).

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII), dr Nia Ariasti, mengatakan, faktor yang memengaruhi CVS ada durasi pemakaian dan posisi yang kurang sesuai. Dulu, CVS paling banyak diderita orang-orang pekerja kantoran.

Baca Juga

Penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan Vision Council menunjukkan terdapat setidaknya 60 persen pria dan 65 persen perempuan yang menderita CVS. Sedangkan, 80 persen orang dewasa di AS menggunakan gawai setidaknya dua jam per hari.

Nia menjelaskan, jika seseorang menggunakan gawai terus-menerus ditambah memakai gawai lebih satu, maka resiko naik 75 persen lebih tinggi. CVS merupakan keluhan atau ketidaknyamanan mata disebabkan penggunaan alat visual display terminal (VDT).

"VDT berbahaya karena mengeluarkan radiasi infra merah dan visible spectrum of light," kata Nia dalam Webinar Pengabdian Masyarakat FK UII, Senin (19/3).

Gejala VDT bisa dikenali bila didapati gejala mulai dari penglihatan kabur atau penglihatan ganda, nyeri mata, mata lelah, dan mata kering. Keluhan lainnya yang dilaporkan nyeri di bahu, nyeri leher, kaku leher, hingga nyeri punggung.

Bagi orang dewasa usia lebih dari 45 tahun dengan presbiopi, gejala lebih parah. Tidak cuma menimbulkan gangguan mata, CVS bisa menurunkan kualitas tidur. Sinar biru yang dipancarkan VDT mengganggu pengaturan hormon tidur, yakni melatonin.

Soal pengajaran daring yang diberlakukan hampir seluruh tingkatan sekolah, mau tidak mau anak menggunakan gawai lebih dari waktu seharusnya. Ia menilai, anak 2-5 tahun per hari sebaiknya hanya menghabiskan screen time maksimal satu jam.

"Anak dengan screen time lebih dari dua jam per hari, lebih sering terkena ADHD (gangguan emosi)," ujar Nia.

Nia memberi saran guna menurunkan resiko terkena VCS selama pandemi. Penggunaan timer dianjurkan saat kita tengah beraktivitas menggunakan gawai. Tiap 20 menit melihat gawai harus melihat ke luar jendela obyek bebas guna membuat mata santai.

"Hindari penggunaan gawai di bawah sinar terik matahari. Sering kali saat fokus mengerjakan sesuatu seseorang akan lupa untuk mengedipkan mata. Mengedipkan mata akan membuat mata tidak kering dan melindungi mata dari debu," kata Nia.

Dosen FK UII, dr Artati Sri Rejeki, turut menjelaskan penyakit glaukoma. Glaukoma penyakit mata akibat kerusakan saraf penglihatan, terkait peningkatan tekanan di mata. Bila tidak ditangani cepat dan tepat bisa menimbulkan kebutaan permanen.

Gejala glaukoma yang bisa dikenali merupakan kesulitan dalam melihat atau lapang pandang sempit. Penderitanya sering tersandung saat berjalan karena terbatasnya penglihatan bagian pinggir. Bila gejalanya masih ringan, maka bisa diatasi obat-obatan.

"Namun, jika parah, maka harus dioperasi guna menurunkan tekanan mata penderita," ujar Artati.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA