Senin 21 Mar 2022 21:44 WIB

Smelter Alumina Inalum Antam di Kalbar Mangkrak

Pembangunan smelter terhambat pengerjaan procurement.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Fuji Pratiwi
Smelter (Ilustrasi). Smelter Alumina Inalum Antam di Kalbar Mangkrak.
Smelter (Ilustrasi). Smelter Alumina Inalum Antam di Kalbar Mangkrak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Indonesia Asahan Alumina (Inalum) dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) bekerja sama membangun Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah, Kalimantan Barat. Sayangnya, proyek yang digadang gadang tersebut saat ini mangkrak.

Proyek SGAR dikelola PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI) yang dimiliki PT Inalum (Persero) dengan saham sebesar 60 persen dan ANTAM dengan saham 40 persen.

Baca Juga

Presiden Direktur PT BAI Dante Sinaga mengungkapkan, merujuk pada rencana yang ada maka seharusnya proyek sudah mencapai 71,73 persen. Targetnya pada Juli tahun depan smelter ini bisa beroperasi. Tetapi karena pihak procurement dari China tak melaksanakan kontrak dengan baik maka proyek ini masih mangkrak.

"Ini utamanya memang disebabkan oleh progres dari procurement yang sangat terlambat. Procurement terlambatnya 47,75 persen," ungkap Dante dalam RDP bersama Komisi VII DPR RI, Senin (21/3/2022).

Dante mengungkapkan, terhambatnya pengerjaan procurement berdampak pada tahapan-tahapan lainnya.

Selain itu, ada dua faktor utama yang juga menjadi penyebab terlambatnya proyek SGAR Mempawah.

Dante mengungkapkan, masih ada perselisihan antara EPC kontraktor. Belum adanya kesepakatan yang tercapai untuk internal consortium agreement diakui menjadi kendala.

Adapun, EPC kontraktor untuk proyek ini adalah BUMN asal China, China Aluminium International Engineering Corporation Ltd (Chalieco) bersama PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP).

Faktor kedua yakni terkait pengerjaan dan lokasi untuk red mud untuk tempat pengolahan limbah B3 dari smelter.

"Jadi kedua hal ini (penyebab) namun yang paling besar adalah dispute antara konsorsium," kata Dante.

Direktur Operasi Bidang EPC PTPP Eddy Herman Harun mengungkapkan, masih terjadi selisih hitung nilai untuk beberapa pengerjaan antara PTPP dan juga Chalieco.

 

Eddy menjelaskan, berdasarkan cakupan pengerjaan maka PTPP bertugas untuk civil work dan sisanya oleh Chalieco.

"Kami enggak bisa kerja sendiri karena datanya harus dari Chalieco. Kami tidak bisa mengarang-ngarang, itu terlambat sampai ke kami bahkan belum seluruh fasilitas data-datanya diberikan ke kami," kata Eddy.

Eddy melanjutkan, berdasarkan kontrak konsorsium, telah disepakati unit price untuk pengerjaan meliputi 2.628 items. Dari jumlah tersebut, 2.297 items merupakan unit price dan sisanya merupakan item lumpsump.

Untuk item price nilai kontrak awal mencapai Rp 2,77 triliun. Belakangan terjadi selisih hitung untuk pengerjaan serta harga antara kedua anggota konsorsium.

Proyek SGAR ini berkapasitas satu juta ton dengan target bisa mengolah bauksit dari PT Antam untuk selanjutnya dikirim ke Smelter Inalum. Kehadiran proyek ini pun juga diharapkan bisa menekan angka impor alumina.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement