Senin 21 Mar 2022 01:00 WIB

Multaqa Nasional Ke-7 Alumni Al-Azhar Hasilkan Tujuh Rekomendasi

Multaqa Nasional ke-7 Alumni Al-Azhar Mesir di Indonesia hadirkan para pakar

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah
Sekjen Organisasi Alumni Al-Azhar Internasional (OIAA) Cabang Indonesia, Dr Muchlis M Hanafi, saat membacakan tujuh rekomendasi Multaqa Nasional ke-7 Alumni Al-Azhar Mesir di Indonesi.
Foto: Dok Istimewa
Sekjen Organisasi Alumni Al-Azhar Internasional (OIAA) Cabang Indonesia, Dr Muchlis M Hanafi, saat membacakan tujuh rekomendasi Multaqa Nasional ke-7 Alumni Al-Azhar Mesir di Indonesi.

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM – Multaqa Nasional ke-7 Alumni Al-Azhar Mesir yang digelar di Mataram, NTB, pada 18-20 Maret 2022 menghasilkan tujuk rekomendasi. 

Rekomendasi dibacakan langsung Sekjen Organisasi Alumni Al-Azhar Internasional (OIAA) Cabang Indonesia, Dr Muchlis M Hanafi. 

Baca Juga

“Setelah mendengarkan dan mendiskusikan berbagai isu terkait tema dengan para pakar dari berbagai bidang keilmuan, Multaqa Nasional menyimpulkan beberapa hal,” ujar Muchlis dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Ahad (20/3/2022).

Pertama, menurut Muchlis, Alumni Al-Azhar menegaskan kembali komitmen bersama dalam meneguhkan wasathiyyah Islam sebagai manhaj dan karakter ajaran Islam yang mengedepankan aspek keseimbangan (al-tawazun), keadilan (al-‘adaalah), kemaslahatan umum (al-mashlahah) dan keberlanjutan (al-istidamah) dalam seluruh sektor kehidupan.

“Oleh karenanya, alumni Al-Azhar mendukung program penguatan Moderasi Beragama yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024, sebagai salah satu ikhtiar dalam menciptakan kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara yang rukun, damai dan harmonis,” ucap Muchlis.

Kedua, menurut Muchlis, narasi wasathiyyah Islam dan penguatan moderasi beragama tidak boleh hanya berkutat pada isu kekerasan atas nama agama, intoleransi dan ekstremisme beragama serta meluruskan kesalahpahaman terhadap teks-teks keagamaan yang mengakibatkan sikap ekstrem dalam beragama.

Baca juga: Tentara Israel Paksa Diplomat Muslim Taiwan Baca Alquran

Namun, lanjut dia, juga mencakup seluruh aspek kehidupan, antara lain dengan membangun sikap seimbang dan berkeadilan yang berorientasi pada kemaslahatan umum di seluruh sektor kehidupan; ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan dan sebagainya. 

“Seperti halnya terjadi dalam kehidupan beragama, sikap ekstrem juga dapat terjadi pada cara pandang, sikap dan praktik kehidupan ekonomi, social, politik, budaya dan sebagainya,” kata dia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement