Sunday, 16 Muharram 1444 / 14 August 2022

Hewan Peliharaan Warga Hong Kong Telantar Gara-Gara Kebijakan Covid-19

Jumat 18 Mar 2022 15:36 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Dwi Murdaningsih

Seekor kucing berada di area kandang penitipan hewan. ilustrasi

Seekor kucing berada di area kandang penitipan hewan. ilustrasi

Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Maskapai membatasi penerbangan untuk hewan peliharaan di Hong Kong.

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Di saat sebagian besar dunia sedang belajar untuk hidup dengan Covid-19, penduduk Hong Kong semakin frustrasi dengan kebijakan nol toleransi yang diterapkan pemerintah. Mereka yang ingin pergi dengan hewan peliharaan pun menajdi sulit.

Mereka harus dikenakan biaya yang lebih mahal serta daftar tunggu yang lebih panjang. Semua itu akibat maskapai telah memangkas jumlah penerbangan ke dan dari Hong Kong karena persyaratan karantina yang ketat.

Baca Juga

Banyak yang memilih untuk meninggalkan hewan peliharaan sebagai pilihan. Keputusan ini pun membuat  tempat penampungan anjing kewalahan dan beroperasi dengan kapasitas penuh.

"Kami telah melihat peningkatan jumlah pemilik anjing yang menelantarkan anjingnya karena mereka pindah. Dengan Covid, lebih sulit dari sebelumnya untuk bepergian dengan hewan peliharaan Anda," kata Eva Sit, seorang pekerja di penampungan hewan di Hong Kong.

Dua anjing bernama Cassius dan Roxy dibawa ke tempat penampungan pada tanggal 3 Maret oleh seorang pembantu rumah tangga yang majikannya terbang pulang ke Inggris beberapa waktu lalu. Majikannya kemudian memutuskan untuk tidak kembali ke Hong Kong.

"Ketika pembantu datang untuk menurunkan mereka ... dia menangis sangat keras, karena jelas dia sangat mencintai mereka. Dia telah merawat mereka sejak masih kecil. Dan itu bukan tanggung jawabnya, tapi majikannya," kata Sit.

Sit mengatakan Hong Kong Dog Rescue rata-rata menerima 10 anjing terlantar sebulan. Sebelum covid, rata-rata tempat penampungan itu hanya menerima 5 ekor anjing. Sekarang mereka kehabisan tempat karena lebih sedikit orang yang mau mengadopsi.

"Setiap badan amal telah kelebihan beban. Orang-orang menyerahkan ikan mas, kura-kura mereka, bukan hanya kucing dan anjing," kata salah satu pendiri pusat penyelamatan hewan Kirsten's Zoo Kirsten Mitchell.

Belum ada angka resmi tentang berapa banyak hewan peliharaan yang ditinggalkan. Namun, Departemen Pertanian, Perikanan dan Konservasi mengatakan, jumlah sertifikat kesehatan hewan yang dikeluarkan pemerintah atau dokumen yang diperlukan hewan peliharaan untuk bepergian melonjak menjadi hampir 9.000 pada 021 dari sekitar 3.700 pada 2020. Sekitar 1.500 sertifikat tersebut telah diterbitkan dalam dua bulan pertama tahun ini.

Warga Australia Claire McLennan yang pulang kampung pada Desember karena alasan keluarga, telah mencoba untuk menerbangkan anjingnya Remi dari Hong Kong. Namun, hewan kesayangannya masih harus berada di tempat penitipan.

"Dia dimaksudkan untuk terbang pada Januari, dan kemudian menjadi terbang bulan Februari, dan kemudian mundur ke Maret, dan sekarang kami menunggu untuk mendengar apakah Qantas menerbangkan hewan peliharaan pada April," kata McLennan.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA