Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

2-6 Pekan Setelah Anak Sembuh Covid-19, Sindrom Peradangan Multisistem Bisa Muncul

Kamis 17 Mar 2022 19:59 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Reiny Dwinanda

Siswa Sekolah Dasar 15 Pagi Mangga Besar mengikuti kegiatan belajar mengajar tatap muka di Jakarta, Rabu (19/1/2022). Ikatan Dokter Anak Indonesia mengingatkan agar anak menjaga protokol kesehatan selama PTM agar tidak terkena Covid-19. Kasus sindrom peradangan multisistem pada anak bisa terjadi ketika si kecil sudah sembuh dari Covid-19.

Siswa Sekolah Dasar 15 Pagi Mangga Besar mengikuti kegiatan belajar mengajar tatap muka di Jakarta, Rabu (19/1/2022). Ikatan Dokter Anak Indonesia mengingatkan agar anak menjaga protokol kesehatan selama PTM agar tidak terkena Covid-19. Kasus sindrom peradangan multisistem pada anak bisa terjadi ketika si kecil sudah sembuh dari Covid-19.

Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Sindrom peradangan multisistem dapat terjadi enam pekan setelah anak sembuh Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada anak, Covid-19 bisa menyebabkan berbagai efek jangka panjang, salah satunya multisystem inflammatory syndrome in children (MIS-C) alias sindrom peradangan multisistem. Ini merupakan kondisi medis ketika bagian organ-organ tubuh anak mengalami inflamasi atau peradangan, termasuk organ pencernaan, saluran pernapasan, dan bahkan jantung.

Ketua Satgas Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Yogi Prawira menjelaskan bahwa MIS-C bisa terdeteksi dalam kurun waktu dua sampai enam pekan setelah anak dinyatakan sembuh dari Covid-19. Menurut dia, MIS-C juga justru sering terjadi pada anak-anak yang sehat-sehat saja, di mana saat infeksinya tidak bergejala atau gejala ringan.

Baca Juga

Karenanya, penting bagi orang tua untuk terus memantau kondisi anak walaupun sudah selesai masa akutnya. Dr Yogi mengatakan, orang tua perlu tahu soal MIS-C karena kondisi ini sering kali tidak terdeteksi.

"Jika memang sudah diketahui anak kena Covid-19, terus pantau selama tiga sampai enam pekan ke depan, ada gejala lain muncul tidak, jika ya mungkin MIS-C," kata dr Yogi dalam sebuah diskusi virtual, disimak di Jakarta, Kamis (17/3/2022).

Selain gejala klinis, mendeteksi MIS-C juga perlu bukti bahwa anak tersebut pernah terinfeksi Covid-19. Karena itu dia meminta orang tua untuk tidak ragu lagi dengan keamanan tes swab pada anak.

Menurut dr Yogi, pekan lalu ada tiga anak yang mengalami keterlambatan diagnosis MIS-C. Sebab, mereka sebelumnya tidak pernah diketahui telah terinfeksi Covid-19.  

"Tiga anak itu tidak jelas dia pernah Covid atau tidak, tapi kemudian dia mengalami demam dan perubahan perilaku, setelah dilakukan pemeriksaan ternyata dia mengalami hiperinflamasi. Kami cross check lagi, ternyata satu bulan lalu di rumahnya ada yang positif, dan si anak tidak di testing," kata dr Yogi.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA