Kamis 17 Mar 2022 15:41 WIB

Mesir akan Tekan Kenaikan Harga Roti Tak Bersubsidi Imbas Perang 

Harga roti di Mesir berpotensi besar alami kenaikan akibat perang Rusia-Ukraina

Rep: Mabruroh/ Red: Nashih Nashrullah
Roti menjadi makanan pokok di Mesir. Subsidi pangan memprioritaskan bagi 70 persen warga yang berpenghasilan menengah ke bawah.
Foto: AL ARABIYA
Roti menjadi makanan pokok di Mesir. Subsidi pangan memprioritaskan bagi 70 persen warga yang berpenghasilan menengah ke bawah.

IHRAM.CO.ID, KAIRO — Presiden Mesir Abdel-Fattah El-Sisi mengumumkan akan mengontrol harga pada roti yang tidak disubsidi untuk memerangi kenaikan harga setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Pernyataannya ini disampaikan oleh juru bicara kepresidenan Bassam Rady yang mengumumkan pada Selasa (15/3/2022) lalu. 

Baca Juga

Keputusan itu diambil dalam pertemuan antara Sisi dan Perdana Menteri Mesir, Menteri Pertahanan, Menteri Pasokan dan Perdagangan Dalam Negeri, Menteri Dalam Negeri, dan Direktur Intelijen untuk menindaklanjuti ketersediaan kuota strategis sembako, terutama untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang diperkirakan akan dimulai pada 2 April. 

Juru bicara kepresidenan juga mencatat bahwa Sisi menugaskan pemerintah untuk menilai biaya roti yang tidak disubsidi, dan menginstruksikan kementerian pasokan dan perdagangan internal untuk memasok roti dengan tepung yang dibutuhkan untuk membatasi kenaikan lebih lanjut pada harga roti.

Sementara pada saat yang sama meminta interior kementerian untuk memantau harga di lapangan. 

Dilansir dari Alaraby, Kamis (17/3/2022), Presiden Mesir baru-baru ini membatasi jatah makanan gratis dan bersubsidi yang diberikan kepada rumah tangga berpenghasilan rendah. Presiden juga melarang jatah makanan untuk pengantin baru, menyebabkan kritik luas di seluruh negeri.  

Roti adalah komoditas dasar bagi orang Mesir, dikonsumsi selama sebagian besar waktu makan dalam sehari. Invasi Rusia ke Ukraina telah berdampak besar pada impor gandum Mesir.  

Mesir adalah importir gandum terkemuka di dunia, yang sebagian besar dipasok Rusia dan Ukraina.

 

Sumber: alaraby  

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement